Pukul 10 pagi, perasaan tidak tenang, cemas yang terlalu berlebih untuk memulai hari. Dia masih ada di mana-mana. Melekat di dalam kepala, menjelma debu-debu di kolong meja kerja, sampai meyerupai bulir-bulir darah yang mengalir deras di arteri. Semakin lama, semakin dekat hingga rasanya seperti leher tercekik kuat. Napas terengah-engah, rupanya ini semakin menyiksa. Tapi… Sebentar. Ada notifikasi baru di handphoneku. Ternyata, dia datang lagi berupa pesan WhatsApp, “Kamu di mana? Balasnya kok lama, lagi sama siapa kamu? JAWAB TELPONKU SEKARANG!” Tanganku gemetar hebat. Ini bukan kejadian sekali, dua kali, ini bahkan repetitif yang sudah berulang berkali-kali. Meski begitu, jariku tetap gentar menerima panggilan darinya. Karena pasti yang aku dengar adalah segala macam sumpah serapah yang terucap dengan liar tanpa jeda dari mulutnya. Aku bergeming, membiarkan handphoneku bergetar hingga panggilan itu berakhir dengan sendirinya. Tidak berselang lama, muncul lagi serentetan panggilan den...
TERKADANG MULUT SULIT BERUCAP MAKA TULISAN MENJADI JALAN PINTASNYA