“Belakangan aku lihat wajahmu sering murung. Kenapa?” “Bukan urusanmu.” Jawabnya singkat, namun tegas. Setelah itu, dia langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi. Percakapan singkat itu berakhir tidak damai. Beberapa hari setelahnya, lama tidak aku dengar kabarnya. Dia yang selalu terlihat ceria dengan tatapan optimis dan selalu berucap “Aman, pasti bisa kok.” kini sudah luntur. Foto profil Whatsappnya pun tak nampak lagi wajahnya, hanya avatar kosongan seakan memberi isyarat sedang tak ingin diganggu siapapun. Aku coba menjelajah ke akun media sosialnya. Rentetan story titik titik itu pun tak terlihat lagi. “Ada apa sebenarnya dengannya?” pertanyaan yang terlintas di kepalaku. Karena yang aku tahu, selalu saja ada hal menyenangkan yang dia bagikan. Jadi aku rasa momen diam seperti ini terlalu janggal buatnya. Tepat dua bulan sudah berlalu dari percakapan singkat itu. Seperti biasa pukul 4 sore aku mampir ke kafe langgananku sambil membereskan pekerjaan yang belum selesai. Tanp...
TERKADANG MULUT SULIT BERUCAP MAKA TULISAN MENJADI JALAN PINTASNYA