Skip to main content

Merayakan Segelas Kekalahan

“Belakangan aku lihat wajahmu sering murung. Kenapa?”

“Bukan urusanmu.” Jawabnya singkat, namun tegas.

Setelah itu, dia langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi.

Percakapan singkat itu berakhir tidak damai.

Beberapa hari setelahnya, lama tidak aku dengar kabarnya. Dia yang selalu terlihat ceria dengan tatapan optimis dan selalu berucap “Aman, pasti bisa kok.” kini sudah luntur. Foto profil Whatsappnya pun tak nampak lagi wajahnya, hanya avatar kosongan seakan memberi isyarat sedang tak ingin diganggu siapapun.

Aku coba menjelajah ke akun media sosialnya. Rentetan story titik titik itu pun tak terlihat lagi. “Ada apa sebenarnya dengannya?” pertanyaan yang terlintas di kepalaku. Karena yang aku tahu, selalu saja ada hal menyenangkan yang dia bagikan. Jadi aku rasa momen diam seperti ini terlalu janggal buatnya.

Tepat dua bulan sudah berlalu dari percakapan singkat itu. Seperti biasa pukul 4 sore aku mampir ke kafe langgananku sambil membereskan pekerjaan yang belum selesai. Tanpa sinyal dan kabar apapun, secara tiba-tiba dia muncul. Kali ini benar-benar tepat di depanku. Aku yang masih sibuk membereskan banyak kerjaan dan fokus di depan laptop tidak menyadari kehadirannya.

Sampai akhirnya dia menutup langsung layar laptopku dengan paksa, “Aku minta waktumu sebentar, temani aku ngobrol. Tolong.” Ucapnya lirih dengan nada memohon. Ekspresi wajahnya berantakan. Matanya sembap, seperti seseorang yang semalaman menangis sendirian.

“Hei, ada apa? Duduk saja gapapa.”

“Aku sudah kalah.”

“Hah maksudnya?”

“Tidak hanya sekali, aku sudah kalah berkali-kali.”

“Okay sebentar. Coba kamu ceritakan ada apa? Dua bulan ini aku coba menghubungimu tapi tak berbalas. Aku kira memang kamu sudah tak mau diganggu. Jadi… sekarang biar aku dengar semuanya.”

Aku melihatnya menghela napas cukup dalam sebelum membuka mulut untuk mulai bercerita. “Relax aja, jangan buru-buru ya.” Sambungku untuk meyakinkan dia supaya merasa aman.

“Aku pikir awalnya aku bisa atasi semua sendiri. Mulai dari banyak project kerjaan yang aku iyakan, lalu harapan dari keluarga yang semakin lama semakin berat saja rasanya.”

“Dan sekarang bertambah dari orang terdekat aku, orang yang aku kira paling bisa mengerti keadaanku saat ini, pacarku sendiri. Belakangan dia seringkali marah dan mulai muncul konflik yang ga habis-habis.” Aku melihat dia meracau tanpa jeda, “Pelan-pelan saja ceritanya, napasnya jangan lupa.”

Lanjutnya, “Waktuku memang banyak aku habiskan untuk kejar deadline, tapi selalu aku sampaikan ke dia. Aku berusaha untuk membagi rata semuanya, karena semuanya penting buatku. Aku merasa sekarang benar-benar sendiri dan rasanya sa..kit.. ternyata sebegini beratnya menanggung harapan banyak orang.”

Mendengarnya bercerita tanpa putus, terlihat jelas beban yang dia pikul berat sekali kali ini. Aku hanya diam dan mendengarkan setiap kata demi kata yang terlontar dari mulutnya. Suaranya mulai parau, bibirnya jelas bergetar. Air matanya runtuh.

“Aku sudah ga kuat, jadi aku pikir datang ke sini ke tempat biasa aku melepas lelah bisa redakan bebanku. Ternyata ada kamu di sini, maaf ya aku jadi melibatkanmu juga…”

Aku tetap diam dan tidak membalas ucapan darinya sepatah kata pun. Kepalaku hanya mengangguk pelan sambil mencoba memproses setiap kesedihannya. Buat aku yang berperan sebagai pendengar mampu merasakan kacaunya dia saat ini.


Sekilas aku mengingat kembali momen di saat aku hancur berantakan. Pedih.


Dadaku pun ikut sesak dan merasa simpati dengannya. “Sesulit ini yang harus dia hadapi belakangan ini." Batinku diam-diam sambil melihatnya menyeka air mata yang jatuh di pipinya.

“Minumku sudah habis, aku tinggal pesan minum lagi sebentar di depan.” Ucapku kepadanya, lalu beranjak ke kasir untuk menambah pesanan baru.

Aku memesan dua gelas Iced Americano. Hanya itu saja untuk menambah waktu kita berbincang.

Sekitar tiga sampai empat menit pesananku selesai dibuatkan. Aku mengambil pesananku dan menemuinya kembali.

“Satu gelas untukku yang sudah terlibat dengan serangkaian kesedihanmu, satu gelas untukmu.”

“Tapi kan aku..-“

Belum selesai dia menyelesaikan kalimatnya, namun sudah aku potong, “Ssstt.. sudah terima saja. Aku ingat kok, kamu hanya minum kopi susu selama kita nongkrong bersama karena kamu tidak tahan dengan rasa pahit. Ditambah aku juga tidak punya solusi instan untuk membantu menyelesaikan segala macam kerumitan itu. Jadi malam ini, sama-sama kita rayakan kekalahanmu.”

“Tapi kalau tidak bisa aku minum bagaimana? Kayaknya ini terlalu pahit buat aku deh”

“Kamu pasti bisa. Disesap pelan-pelan saja, lama-lama pahitnya nanti samar-samar tidak terasa.”

Seteguk pertama darinya sambil mengernyitkan dahi tanda dia menahan pahit. Lalu dua dan tiga dan seterusnya dia mulai terbiasa menikmati pahitnya.

“Aku cuma perlu bertahan saja kan maksudmu?” tanya darinya sambil tatapannya terpaku pada gelasnya yang tinggal setengah isinya.

Aku tidak menjawab apapun, bibirku hanya tersenyum kecil dan melanjutkan menemaninya untuk menghabiskan segelas kekalahan di malam itu.


Di malam itu tidak ada solusi, tidak ada juga masalah yang selesai. Hanya dua orang yang kebetulan sering bertemu di kafe yang sama dan menjadi saling kenal lalu merayakan kekalahan bersama.




Comments

Popular posts from this blog

Ledakan Kosmik Di Aliran Vena

Tiga atau empat tahun sudah berlalu. Banyak hal yang terjadi juga tentunya dalam rentang waktu tersebut. Tentang jalanku yang semakin gelap tidak punya tujuan dengan arah yang sembarangan. Hari-hari kebanyakan aku jalani dengan sekadar cukup bertahan hidup saja sudah merupakan pencapaian yang cemerlang. Aku lupa kalau jantungku masih berdetak artinya masih punya kesempatan untuk melakukan hal-hal lain yang jauh lebih bermanfaat, aku lupa kalau napasku masih berhembus setiap hari artinya selalu ada kesempatan untuk perbaiki diri, aku lupa kalau masih bernyawa artinya Tuhan begitu baik memberikan waktu tambahan untuk bersyukur karena masih diberikan hidup. Terlalu mahal harganya bahkan seluruh gaji bulananku juga tak mampu membayar segala berkah dariNya. Aku tidak pura-pura buta, tidak juga pura-pura tidak merasa. Sampai hari ini pun, aku masih mampu melihat banyak hal nyata yang terlalu indah, batinku juga merasa, “Tidak mungkin tidak ada campur tangan magis dariNya sampai aku bisa sela...

Fragmen Kosmik Di Sorot Matanya

Kira-kira empat bulan berlalu setelah aku bertemu dengan dia untuk yang pertama kalinya. Ada yang berbeda setelahnya. Entah, sulit aku jelaskan dengan lugas. Tapi tubuhku jelas ada yang berubah. Meski terasa samar, namun aku yakin kadar hormon serotonin dalam tubuhku mendominasi. Menekan hebat perasaan stres dan cemas sehingga hormon kortisol seakan tak punya ruang untuk mengusik. Aku masih ingat dengan jelas saat dia tepat berada di sampingku. Tiba-tiba mulutku menjadi gugup dan menjawab pertanyaan darinya dengan serampangan kemudian rasanya saat tidak sengaja mata kita saling menatap, waktu menjadi melambat ekstrem seperti berada terlalu dekat dengan Gargantua . Sepersekian detik momen yang tercipta di antara tatap kita seperti terjadi dilatasi waktu, detik melamban dan ritme detak jantungku menjadi pelan. Hari demi hari setelahnya aku lewati dengan suka cita, perasaan bahagia yang langka kini mulai melekat seiring ritme detak jantungku yang lebih stabil. Bagaimana kamu biasanya s...

Malam Ini Bulannya Cantik, Ya?

Senin pagi, sebelum memulai hari sudah aku pastikan dulu pesan ucapan selamat pagi dariku terkirim centang dua menuju nomor Whatsappmu. Tidak berselang lama, ceklis centang dua berubah warna biru jadi tanda ucapannya sudah tersampaikan dan dibaca tuntas olehmu. “Pagi juga jagoan!” Balasmu cepat. Ucapan selamat pagi yang singkat dan terjadi berulang tapi tidak pernah bosan-bosannya aku baca selalu. Seakan jadi booster tambahan untuk menerabas segala macam mungkin yang belum pasti. Rasanya percaya selalu utuh meski banyak manusia lain yang pergi, tapi aku selalu tahu ada kamu yang tetap tinggal menemani. Hari-hari itu penuh menyenangkan, bahkan tidak ada satu hari pun yang aku sesali. Masuk di jam kerja kadang-kadang bibirku senyum-senyum sendiri sambil membaca pesan terbaru darimu. Ditambah Anything You Want dari Reality Club yang terputar sopan di telinga. Waktu rasanya bergulir lamban dibarengi dengan hormon serotonin yang mengalir kencang ke seluruh tubuh. Tentu, hal seperti ini tid...