“Belakangan aku lihat wajahmu sering murung. Kenapa?” “Bukan urusanmu.” Jawabnya singkat, namun tegas. Setelah itu, dia langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi. Percakapan singkat itu berakhir tidak damai. Beberapa hari setelahnya, lama tidak aku dengar kabarnya. Dia yang selalu terlihat ceria dengan tatapan optimis dan selalu berucap “Aman, pasti bisa kok.” kini sudah luntur. Foto profil Whatsappnya pun tak nampak lagi wajahnya, hanya avatar kosongan seakan memberi isyarat sedang tak ingin diganggu siapapun. Aku coba menjelajah ke akun media sosialnya. Rentetan story titik titik itu pun tak terlihat lagi. “Ada apa sebenarnya dengannya?” pertanyaan yang terlintas di kepalaku. Karena yang aku tahu, selalu saja ada hal menyenangkan yang dia bagikan. Jadi aku rasa momen diam seperti ini terlalu janggal buatnya. Tepat dua bulan sudah berlalu dari percakapan singkat itu. Seperti biasa pukul 4 sore aku mampir ke kafe langgananku sambil membereskan pekerjaan yang belum selesai. Tanp...
“Halo halo, jadi bagaimana keadaanmu di sana? Aku mau bilang kalau sekarang hidupku sering berpindah. Ke mana saja mengikuti jejakmu pelan-pelan. Belakangan aku pernah tinggal di kota kelahiranmu. Cuacanya panas luar biasa, seperti memang Tuhan menciptakan lima matahari untuk setiap orangnya. Jadi seperti ini ya, kota besar yang menempa dirimu saat muda dulu. Aku juga masih ingat pernah kamu ajak main ke kota ini, tapi itu sudah lama sekali. Sedikit samar tapi masih terbayang saat itu mampir ke rumah orang tuamu. Di pinggir jalan raya yang ramai dengan kendaraan bersileweran seolah jalan raya tak pernah benar-benar tidur. Bis-bis besar dan truk muatan besar sering melaju cepat sampai getarannya terasa di kamar tidur. Selain getaran dari kendaraan di jalan raya, suara bisingnya juga menembus tembok membuatmu selalu merasa khawatir kalau saja tidurku jadi tidak nyaman. Aku masih ingat, dan semakin aku ingat getarannya menembus lintas waktu, menusuk tepat di dada. Rasanya sesak. Kali ini ...