Skip to main content

Posts

Showing posts with the label bahagia

Dia Bertumbuh, Tapi Tak Kunjung Sembuh

Sore tadi pukul lima, aku bertemu dengan dia yang sudah lama tidak jumpa. Mungkin sekitar tiga tahun. Bukan, lima tahun lebih sejak pertemuan terakhir kita waktu itu. Aku lihat lagi dirinya penuh dengan perasaan yang berbeda kali ini. Tampak dari penampilan tidak banyak perubahan yang berbeda sejak pertemuan terakhir. Suara tawanya pun masih terdengar sama. Dia tetap orang yang sama yang aku kenal sejak sekian tahun. Aku menyapa dengan biasa, "Hei! Apa kabar? Bagaimana hidupmu sekarang?" Dia membalas dengan senyum kecil dan suara yang lembut, "Baik, sejauh ini terkendali kok. Kamu gimana?" "Aku? Hmm.. aku ya begini, masih bernapas dan menikmati hidup." Balasku sambil mikir-mikir tentang keadaanku saat ini. Kita melanjutkan berkeliling kota yang kata orang kota ini terkenal dengan suhunya yang cukup dingin saat musim para mahasiswa baru memulai awal perkulihannya. "Lanjut makan yuk! Makan apa enaknya?" "Ada nih, aku punya tempat makan rekomen...

Separuh yang Luka

Dia tidak benar-benar hidup. Dibilang mati pun juga tidak. Tatapannya seringkali kosong. Melamun menjadi pekerjaan utamanya. Pikirannya entah melayang ke mana-mana. Kadang menyesali terlalu banyak kesalahan di masa lalunya. Kadang berkhayal berlebihan tentang masa depannya. Cemas, waswas, khawatir, perasaan tidak nyaman, takut kehilangan, merasa tidak pernah sepadan, semua itu seperti sudah menjadi hal-hal biasa yang dia hadapi. Dia rasakan sakitnya satu per satu. Dia mencoba bangkit pelan-pelan meski masih merangkak dengan susah payah. “Apa lagi yang masih tersisa? Apa lagi yang masih bisa aku jaga? Apa masih ada yang bisa aku percaya?” Pertanyaan demi pertanyaan yang tak kunjung ada jawabannya. Pasrah. Tak bisa apa-apa. Lalu perlahan semakin menambah satu demi satu pertanyaan yang semakin lama membuatnya semakin tidak berdaya. Kata orang, “Berdamai saja.” , “Sudah lupakan saja.” , “Aduh lemah banget gitu aja dipikirin. ” Ini bukan pekerjaan sehari dua hari yang bisa langsung diselesa...

Sekeranjang Doa-doa Manis Untukmu yang Tersayang

Pukul empat sore dengan ditemani hujan yang turun cukup deras. Bulir-bulirnya membasahi tanah bergantian dengan ritme yang tidak menentu. Aku merasa cukup cemas, karena semakin lama, hujannya semakin deras. Padahal belum juga jas hujan yang baru aku jemur kemarin siang kering sepenuhnya. Belakangan ini hujan cukup sering datang, mulai dari gerimis kecil hingga petir menggelegar juga ikut datang menyambar. Kembali aku lihat kalender di ponselku, ternyata kini sudah Desember. “Ahh..pantas saja hujan sering turun, kan memang sudah masuk musim penghujan.” Keluhku sambil melamun di toko kopi sederhana sembari menunggu hujan reda. Lalu aku renungkan kembali, Desember artinya sudah berada di pengujung tahun. Setelah ini selesai, dan kembali lagi memulai tahun yang baru. Aku mengambil buku catatanku sambil menulis doa-doa yang kurapalkan untuk kamu yang tersayang, yang kadangkala juga terlupakan. Adalah untuk aku, diriku sendiri. Apresiasi tertinggi untuk kamu yang sudah melewati tahun ini m...

Tentang Rara dan Macam Hal Lainnya

Namanya Ekavira, karena cukup panjang untuk sebuah nama panggilan, jadi aku biasa memanggilnya dengan panggilan Rara. Perempuan paling berani yang pernah aku temui di kota kecil ini. Dia ceroboh, emosinya kadang meluap tak tentu. Namun Rara cukup tangguh menghadapi banyak hal yang mengahalangi Sebenarnya aku sudah mengenalnya cukup lama, tapi saat itu masih sangat terbatas untuk kita saling komunikasi. Kemudian belakangan ini, aku jadi cukup sering bertemu dengannya dan mengobrol karena ada kesamaan tujuan dalam hal pekerjaan. Di momen itu, aku mulai mengenalnya lebih dari sekadar namanya saja. Rara cukup frontal orangnya, meskipun terkadang masih sembunyi-sembunyi untuk terus terang dengan perasaannya. Dia cukup aktif berbicara. Rara terlihat bersemangat sekali ketika mulai menceritakan tentang dirinya. Rupanya dugaanku salah. Awalnya aku kira dia adalah orang yang pendiam. Meski suka sekali bercerita, ada momen dimana wajahnya pucat kelelahan seperti orang yang kehabisan tenaga. “K...

Aku Dihujam Duka Terus-terusan

Bagaimana rasanya ditinggalkan mendadak tanpa aba-aba? Bagaimana rasanya merasa kehilangan yang teramat dalam sampai mengutuk takdir? Bagaimana rasanya menyalahkan diri sendiri atas kematian seseorang hingga penyesalan menghantui seumur hidup? Jadi, bagaimana rasanya?   Satu kata. Hancur.   4 tahun sudah berlalu, tapi kematianmu belum bisa aku terima secara penuh. Aku tersiksa dengan ingatan duka yang selalu datang seenaknya ia mau. Menyakitkan rasanya ketika setiap mataku mulai terpejam dan yang terlihat adalah sekumpulan peristiwa acak yang isinya momen-momen bersama denganmu. Aku masih ingat, saat kamu mengantarku ke sekolah di saat hujan deras dan badanku melekat erat memelukmu dari belakang untuk berbagi jas hujan denganmu. Aku masih ingat, saat kita menghabiskan waktu dengan mancing bersama di setiap libur kerjamu. Sebab pulangmu yang 3-5 bulan sekali jadi jarang sekali kita punya waktu bersama. Aku masih ingat, kamu yang suka sekali dengan ikan akh...

Babak Baru

Selalu sulit untuk memulai yang baru lagi. Kamu harus mulai dari awal untuk membiasakan diri dengan segala macam hal yang baru. Menyesuaikan, menyocokkan, bahkan sampai harus mencari tahu hal-hal yang kamu tidak tahu sebelumnya. Tapi, ini memang harus dilakukan. Meski terkadang masa lalu akan selalu datang menembak tepat di ingatan dan terbayang lagi cerita lama yang sudah dilalui bersama.

Luka-luka di Penghujung Hari

Datang lagi waktunya, akhir tahun yang selalu dirayakan oleh kebanyakan orang, d engan banyak cara yang tak harus sama, merayakan 365 hari yang sudah terlewat rasanya sah-sah saja.  Ada yang berkumpul bersama teman-teman sambil ngobrol tentang apa pun hingga terbit fajar, ada yang sudah punya rencana pergi berlibur bersama keluarga sambil memamerkan kehangatannya di sosial media, ada juga yang masih merasa kosong dan tidak melakukan apa-apa.  Tak ada yang salah dengan caramu, kau pantas merayakan perjuanganmu selama 365 hari sesuka hatimu. Bukan waktu yang singkat, juga bukan tugas yang ringan untuk menyelesaikannya. Berbanggalah! Kau sudah melewatinya dengan baik.

Rekayasa Perasaan

Malam ini, aku sedang terdiam di dalam kamar yang masih saja berantakan dengan tumpukan kertas -kertas yang biasa aku sebut laporan. Akhir - akhir ini ada saja hal mengganggu pikiran ku . Entah itu soal tugas kuliah, keluarga atau hal -hal yang merepotkan lainnya. Bukan hanya perihal pikiran, tapi juga tentang perasaan yang kadang-kadang suka merasa seenaknya sendiri . Aku tidak tahu sebenarnya perasaan apa ini. Sudah cukup lama aku merasakan seperti ini, yang aku sendiri sama sekali tidak mengerti .