Skip to main content

Posts

Showing posts with the label lara

Dia Bertumbuh, Tapi Tak Kunjung Sembuh

Sore tadi pukul lima, aku bertemu dengan dia yang sudah lama tidak jumpa. Mungkin sekitar tiga tahun. Bukan, lima tahun lebih sejak pertemuan terakhir kita waktu itu. Aku lihat lagi dirinya penuh dengan perasaan yang berbeda kali ini. Tampak dari penampilan tidak banyak perubahan yang berbeda sejak pertemuan terakhir. Suara tawanya pun masih terdengar sama. Dia tetap orang yang sama yang aku kenal sejak sekian tahun. Aku menyapa dengan biasa, "Hei! Apa kabar? Bagaimana hidupmu sekarang?" Dia membalas dengan senyum kecil dan suara yang lembut, "Baik, sejauh ini terkendali kok. Kamu gimana?" "Aku? Hmm.. aku ya begini, masih bernapas dan menikmati hidup." Balasku sambil mikir-mikir tentang keadaanku saat ini. Kita melanjutkan berkeliling kota yang kata orang kota ini terkenal dengan suhunya yang cukup dingin saat musim para mahasiswa baru memulai awal perkulihannya. "Lanjut makan yuk! Makan apa enaknya?" "Ada nih, aku punya tempat makan rekomen...

Melihatmu Pergi Di Februari

Tidak terasa sudah sebulan tepat berlalu kita menghabiskan banyak waktu bersama. Menemanimu di saat kamu sudah tidak mampu percaya lagi. Berjalan bersama dengan banyak ketidaksempurnaan. Dan denganmu, aku pun merasa mampu menjadi diriku sendiri. Aku pikir jika denganmu bisa berjalan dengan baik nantinya. Bersama pelan-pelan kita lalui satu bulan terakhir ini dengan saling mengenali dan mengerti satu sama lain. Kamu yang masih belum bisa percaya sebab segala macam yang telah kamu lalui di masa lalu. Pun juga aku, yang masih carut marut dengan diriku sendiri bisa kamu terima. Kamu tahu, aku merasa hidup bisa menghabiskan banyak waktu denganmu. Mendengar setiap cerita dan keluh kesahmu malah jadi tambahan napas untuk aku bisa melangkah lebih jauh lagi. Ucapan selamat pagi yang menjadi notifikasi nomor satu yang selalu aku tunggu setiap aku bangun dari tidurku jadi tambahan penyemangat memulai hari. Dampak hadirmu sangat besar buatku, pun aku ingin membuatmu merasakan berbagai macam hal-ha...

Separuh yang Luka

Dia tidak benar-benar hidup. Dibilang mati pun juga tidak. Tatapannya seringkali kosong. Melamun menjadi pekerjaan utamanya. Pikirannya entah melayang ke mana-mana. Kadang menyesali terlalu banyak kesalahan di masa lalunya. Kadang berkhayal berlebihan tentang masa depannya. Cemas, waswas, khawatir, perasaan tidak nyaman, takut kehilangan, merasa tidak pernah sepadan, semua itu seperti sudah menjadi hal-hal biasa yang dia hadapi. Dia rasakan sakitnya satu per satu. Dia mencoba bangkit pelan-pelan meski masih merangkak dengan susah payah. “Apa lagi yang masih tersisa? Apa lagi yang masih bisa aku jaga? Apa masih ada yang bisa aku percaya?” Pertanyaan demi pertanyaan yang tak kunjung ada jawabannya. Pasrah. Tak bisa apa-apa. Lalu perlahan semakin menambah satu demi satu pertanyaan yang semakin lama membuatnya semakin tidak berdaya. Kata orang, “Berdamai saja.” , “Sudah lupakan saja.” , “Aduh lemah banget gitu aja dipikirin. ” Ini bukan pekerjaan sehari dua hari yang bisa langsung diselesa...

Sore Nanti, Dia Tidak Dirayakan Lagi

Sore hari yang teduh saat aku menghabiskan sebatang rokok sambil menunggu jadwal keretaku. Dari area khusus merokok, aku melihat sosok perempuan dari balik punggungnya yang terlihat antusias menantikan sesuatu. Dia sedang celingak-celinguk diantara kerumunan orang-orang yang sedang merayakan pertemuan, juga perpisahan. Terlihat dengan memakai setelan baju formal warna tosca, dilengkapi dengan pita rambut kecil warna pink menjepit sebagian rambut sampingnya yang terurai lembut sambil membawa tumbler warna ungu kesukaannya yang digenggam erat-erat. Di depan stasiun kota, aku lihat lagi genggamannya semakin erat seakan tumbler itu tidak boleh lepas darinya. Rupanya, dia sedang menunggu seseorang untuk melepas rindunya yang sudah lama dipendam. Seorang laki-laki yang ditunggu-tunggu itu muncul tepat di hadapannya. Laki-laki berkacamata dengan memakai kemeja warna merah marun dan celana panjang warna krem. Dia membawa tas punggung warna cokelat yang cukup besar, mungkin saja untuk memuat ba...

TERBAKAR

Masih ingat denganku? Harapan yang pernah kamu jadikan doa utama sebelum terlelap. Aku ini angan sekaligus ingin yang pernah menjadi nomor satu favoritmu. Aku ini ambisi yang meluap liar hingga rela merusak diriku sendiri hanya untuk menyenangkanmu. Lalu, apa lagi yang kamu tuntut kalau kita bersama sudah hancur lebur? Bahkan badanku sendiri sudah babak belur. Culas! Semua yang kita jalani dan lakukan bersama rupanya adalah sekumpulan caramu untuk membakar rencana-rencana yang sudah dirancang dengan baik. Lalu semua diputarbalikkan seakan-akan hanya aku yang bersalah, sementara kamu tidak pernah mau kalah. Namun, syukurlah itu semua berantakan... 12 tahun berlalu, bukan waktu yang singkat. Kita lalui 12 tahun bersama dan aku semakin tahu, kamu adalah api yang semakin membakarku perlahan. Menggerogoti impian dan harapan pelan-pelan hingga pasrah yang tersisa. Kita sudah terbakar selama itu. Apa kamu selalu nyaman dengan panasnya? Atau memang ini yang kamu inginkan sedari awal? Kita suda...

Jerit Jemari

Aku menulis ini dalam kondisi setengah sadar di malam yang semakin larut saja, namun mata tetap terjaga sebab masih banyak yang berisik di dalam isi kepala. Perihal kata-kata yang sulit diucapkan oleh lidah, aku selalu payah mengungkapkannya. Bagaimana bisa beberapa dari mereka lancar-lancar saja untuk berkata-kata tentang apa-apa yang ada di dalam isi kepala? Menyebalkan. Kadang aku iri ingin bisa melakukan hal lancang seperti itu. Namun selalu saja semua yang ingin dilontarkan mulut hanya tertahan di pikiran.

Luka-luka di Penghujung Hari

Datang lagi waktunya, akhir tahun yang selalu dirayakan oleh kebanyakan orang, d engan banyak cara yang tak harus sama, merayakan 365 hari yang sudah terlewat rasanya sah-sah saja.  Ada yang berkumpul bersama teman-teman sambil ngobrol tentang apa pun hingga terbit fajar, ada yang sudah punya rencana pergi berlibur bersama keluarga sambil memamerkan kehangatannya di sosial media, ada juga yang masih merasa kosong dan tidak melakukan apa-apa.  Tak ada yang salah dengan caramu, kau pantas merayakan perjuanganmu selama 365 hari sesuka hatimu. Bukan waktu yang singkat, juga bukan tugas yang ringan untuk menyelesaikannya. Berbanggalah! Kau sudah melewatinya dengan baik.

Fractura Hepatica

Masih teringat jelas dalam ingatan satu hari setelah kepergianmu. Rasanya masih biasa-biasa saja, tak ada yang berbeda. Aku masih berkegiatan dengan normal. Berangkat kuliah seperti biasa, menulis laporan praktikum secara rutin, ketawa sana-sini dengan teman-teman, semuanya masih terasa normal-normal saja. Kini, 7 bulan telah berlalu dan rasanya ada yang berbeda. Entah, kenapa baru sekarang efeknya baru terasa di saat aku sudah siap untuk menerima hati yang baru. Mungkin hukuman, mungkin juga balasan, aku tidak tahu.

Rekayasa Perasaan

Malam ini, aku sedang terdiam di dalam kamar yang masih saja berantakan dengan tumpukan kertas -kertas yang biasa aku sebut laporan. Akhir - akhir ini ada saja hal mengganggu pikiran ku . Entah itu soal tugas kuliah, keluarga atau hal -hal yang merepotkan lainnya. Bukan hanya perihal pikiran, tapi juga tentang perasaan yang kadang-kadang suka merasa seenaknya sendiri . Aku tidak tahu sebenarnya perasaan apa ini. Sudah cukup lama aku merasakan seperti ini, yang aku sendiri sama sekali tidak mengerti .

Desember, Cepatlah Pergi!

Tidak terasa sudah berada di penghujung tahun ini, tepat di tanggal 31 Desember 2018. Ada baiknya mencoba untuk mengingat kembali apa saja yang sudah terjadi sebelumnya, tentang peristiwa-peritiwa yang sudah terlewat begitu saja. Tentang tahun ini, bisa kusebut dengan “Tahun Keguguran”, sebab banyak bencana di mana-mana, banyak nyawa berguguran, banyak orang menangisi kehilangan. Tahun ini negeriku sedang berduka, begitu pula dengan hatiku.

Cinta tak Selalu se-MANIS kata Orang

Malam ini, ya tepat malam ini aku benar benar merasakan bagaimana rasanya "jatuh". Apa kalian pernah ngerasain penolakan? Ya aku pernah, dan ini yang pertama. Rasanya aneh, tidak berdarah, tapi rasanya sakit. Tidak memar, tapi rasanya masih membekas. Tapi tetap saja rasanya sakit, berpura pura kuat hanya akan menambah sakit. Ini tidak masuk akal. Semua yang udah ada di pikiran aku selama ini lenyap begitu saja. Bayangan tentang kebahagiaan yang semu itu akhirnya juga ikut hilang. Dan yang tersisa hanya angan angan.

Tulisan tak Berjudul

Terkadang semua yg udah aku yakinin tiba tiba aja berubah menjadi keraguan. Sama seperti perasaan ini yg terkadang seperti mempermainkan aku sendiri. Aku benci ketika sedang merasakan perasaan ini, tidak tahu kepastian, dipenuhi tanda tanya, masih samar samar, dan sampai sekarang terus menjadi misteri.