Skip to main content

Melihatmu Pergi Di Februari

Tidak terasa sudah sebulan tepat berlalu kita menghabiskan banyak waktu bersama. Menemanimu di saat kamu sudah tidak mampu percaya lagi. Berjalan bersama dengan banyak ketidaksempurnaan. Dan denganmu, aku pun merasa mampu menjadi diriku sendiri.

Aku pikir jika denganmu bisa berjalan dengan baik nantinya. Bersama pelan-pelan kita lalui satu bulan terakhir ini dengan saling mengenali dan mengerti satu sama lain. Kamu yang masih belum bisa percaya sebab segala macam yang telah kamu lalui di masa lalu. Pun juga aku, yang masih carut marut dengan diriku sendiri bisa kamu terima.

Kamu tahu, aku merasa hidup bisa menghabiskan banyak waktu denganmu. Mendengar setiap cerita dan keluh kesahmu malah jadi tambahan napas untuk aku bisa melangkah lebih jauh lagi. Ucapan selamat pagi yang menjadi notifikasi nomor satu yang selalu aku tunggu setiap aku bangun dari tidurku jadi tambahan penyemangat memulai hari.

Dampak hadirmu sangat besar buatku, pun aku ingin membuatmu merasakan berbagai macam hal-hal yang indah dan lucu bersamaku.

Aku tahu, kamu tidak sempurna, banyak celanya, juga hatimu masih tergores dan bekasnya pun masih terlihat nyata. Kamu masih sulit percaya.

Aku pun tahu itu, dengan menyalahkan masa lalu, kamu tidak ingin terlibat dengan kehidupan orang lain, termasuk denganku. Tenang saja, aku pun tidak terburu-buru dan memberi waktu untukmu pulih perlahan.

Di kepalaku terputar kita berjalan bersama di jalan setapak kecil yang hanya bisa dilewati oleh dua orang saja sambil mengaitkan erat jari kelingking kita untuk saling menjaga.

Lalu waktu yang tidak aku inginkan pun tiba juga. Di saat dia yang pernah ada di masa lalumu datang kembali tanpa permisi untuk masuk dan ikut campur dalam hidupmu lagi.

Mencoba meyakinkanmu kembali untuk yang kesekian kalinya. Dia yang membuatmu menderita untuk sulit percaya sedang berupaya mendapatkan hatimu meski dengan kondisi luka-luka.

Kali ini sudah ada aku yang mengisi di garis waktu hidupmu. Aku juga tahu sendiri bagaimana kamu tidak ingin terlibat lagi dengannya. Tapi aku saja ternyata masih belum mampu untuk membuatmu benar-benar yakin dan percaya. Meski kamu tidak ingin aku pergi menjauh, kamu pun tidak bisa menolaknya masuk kembali ke dalam hidupmu.


Kamu tahu, aku hancur.


Aku sembunyikan lukanya di sela-sela bibirku saat tersenyum agar kamu tetap merasa aman saat dekat denganku. Rasanya seperti bulir-bulir darahku tetap menolak untuk meninggalkanmu. Meski dihantam remuk kenyataan saat kamu dengan antusias menceritakan dia yang datang kembali untuk bersamamu.


Kamu tahu, perlahan telingaku berdarah mendengarnya berulang kali.


Bagaimana bisa dia yang telah membuatmu runtuh, mampu membuatmu seakan kembali merasa utuh?

Apa matamu sudah terlalu buta menerima dia yang dulunya telah membuatmu banyak luka?

Lalu hatimu ke mana? Apa ia tak merasa kalau aku ini ada?


Hening.


Aku kira aku bisa dengan mudah yang kamu pilih sebab kamu sendiri yang bilang kalau masa lalumu terlalu banyak menggoreskan banyak luka. Namun aku pun tersadar, aku kalah perihal lamanya waktu yang kita habiskan bersama.

Sudah pasti kenangan dan ingatan yang sudah menahun terekam di kepalamu tentang dia akan selalu menjadi nomor satu. Sedang aku terbuang jauh, sangat jauh sampai menggapaimu saja sudah tak mampu.

Mohonmu, aku jangan pergi. Aku tak boleh menjauh darimu. Kamu selalu ingin dekat denganku bahkan jari-jarimu masih punya nyali untuk mengirimkan ucapan selamat pagi.


Sialan.


Serakah sekali kamu sampai ingin menabrakan dua masa yang berbeda. Inginmu, aku selalu ada buatmu di saat petir datang menghantam malammu. Lalu kamu habiskan setiap sore dengannya sambil saling melempar suka.

Harapan yang kamu bangun kokoh itu sudah aku redam dan kubur mendalam. Tidak lagi ada namamu di setiap notifikasi yang muncul di ponselku. Bukan lagi kamu yang terputar di kepalaku saat hati sedang senang-senangnya.

Kembalilah mundur jauh hingga terperosok jatuh bersama dia yang pernah merobek hatimu sampai sakitnya menahun. Lalu di saat nanti waktumu datang lagi dengan setumpuk luka dan air mata untuk kembali. Kamu juga sudah tahu, tidak akan ada aku lagi yang menemani dan menuntunmu untuk pulih.


Sudah cukup, jangan denganku…


Pergilah.


Tahun ini Februari tidak seru sama sekali.

Comments

Popular posts from this blog

Fragmen Kosmik Di Sorot Matanya

Kira-kira empat bulan berlalu setelah aku bertemu dengan dia untuk yang pertama kalinya. Ada yang berbeda setelahnya. Entah, sulit aku jelaskan dengan lugas. Tapi tubuhku jelas ada yang berubah. Meski terasa samar, namun aku yakin kadar hormon serotonin dalam tubuhku mendominasi. Menekan hebat perasaan stres dan cemas sehingga hormon kortisol seakan tak punya ruang untuk mengusik. Aku masih ingat dengan jelas saat dia tepat berada di sampingku. Tiba-tiba mulutku menjadi gugup dan menjawab pertanyaan darinya dengan serampangan kemudian rasanya saat tidak sengaja mata kita saling menatap, waktu menjadi melambat ekstrem seperti berada terlalu dekat dengan Gargantua . Sepersekian detik momen yang tercipta di antara tatap kita seperti terjadi dilatasi waktu, detik melamban dan ritme detak jantungku menjadi pelan. Hari demi hari setelahnya aku lewati dengan suka cita, perasaan bahagia yang langka kini mulai melekat seiring ritme detak jantungku yang lebih stabil. Bagaimana kamu biasanya s...

Malam Ini Bulannya Cantik, Ya?

Senin pagi, sebelum memulai hari sudah aku pastikan dulu pesan ucapan selamat pagi dariku terkirim centang dua menuju nomor Whatsappmu. Tidak berselang lama, ceklis centang dua berubah warna biru jadi tanda ucapannya sudah tersampaikan dan dibaca tuntas olehmu. “Pagi juga jagoan!” Balasmu cepat. Ucapan selamat pagi yang singkat dan terjadi berulang tapi tidak pernah bosan-bosannya aku baca selalu. Seakan jadi booster tambahan untuk menerabas segala macam mungkin yang belum pasti. Rasanya percaya selalu utuh meski banyak manusia lain yang pergi, tapi aku selalu tahu ada kamu yang tetap tinggal menemani. Hari-hari itu penuh menyenangkan, bahkan tidak ada satu hari pun yang aku sesali. Masuk di jam kerja kadang-kadang bibirku senyum-senyum sendiri sambil membaca pesan terbaru darimu. Ditambah Anything You Want dari Reality Club yang terputar sopan di telinga. Waktu rasanya bergulir lamban dibarengi dengan hormon serotonin yang mengalir kencang ke seluruh tubuh. Tentu, hal seperti ini tid...

Perayaan Tahun Kelima

10 Juni 2020. Iya, sudah lima tahun berlalu sejak kematianmu. Dan di tahun ini akan aku rayakan dengan menuliskan segala macam hal yang sudah berlalu lama, tapi pedihnya masih terasa nyata. Aku mulai dengan banyak maaf untukmu. Bapak, maaf, kolam ikan kesukaanmu di depan rumah sudah aku ratakan menahun yang lalu. Soalnya setiap pagi kalau aku lihat malah semakin menyayat hati. Aku juga sudah tidak sudi menguras kolamnya sendiri. Apalagi melihat ibu yang selalu sedih setiap kali memberi makan ikan-ikannya. Pekarangan kecil di sekitar rumah yang biasanya kamu isi dengan ragam tanaman juga sudah aku tindih semen hari ini. Agar tidak perlu lagi ada kesedihan yang tumbuh di rumah ini. Kemudian aku lanjutkan dengan membuka kembali ingatan yang semakin menggores hati. Aku masih ingat betul, di tahun kedua kematianmu. Aku berhenti memakai baju bekasmu dan mulai mengosongkan setumpuk bajumu dari dalam lemari. Tapi istrimu malah mengomel dan memarahiku. Katanya dengan napas yang berantakan, ...