Skip to main content

Posts

Showing posts with the label cerita pendek

Aritmia

Kehilangan selalu tidak pernah menyenangkan. Artinya ada sesuatu yang kamu lepaskan, entah memang harus dilakukan ataupun terpaksa karena keadaan. Perasaan kosong karena ada hal yang akhirnya berbeda dari biasanya harus segera dibiasakan. Menerima jadi jalan untuk tetap bertahan. Kata orang kebanyakan, “Kamu harus kuat”, “Coba ikhlaskan saja”, “Memang jalannya seperti itu, diterima ya.” Yang semua intinya adalah membiasakan diri dengan kehilangan. Mereka tidak salah, tapi juga tidak mudah untuk diterima. Ditambah kehilangan seseorang maupun sosok yang sangat berdampak dalam hidup, pastinya tidak mudah, bukan? Aku mencoba menerima bertahun-tahun. Mencoba yang mereka sebut ikhlas, tapi di dalam dada yang ada rasanya sesak berantakan. Rasanya seperti dadamu ditusuk dengan bilah pedang yang tajam, sialnya tidak hanya satu, tapi puluhan bahkan ratusan bilah pedang menusuk tepat di dada kirimu lalu mengoyak liar jantungmu sampai detaknya tak karuan. Brutal. Lalu aku tetap teruskan ...

Di Mana Letak Surga Jika Ibu Sudah Tak Ada?

Tiga tahun ibu sudah berpulang, tapi rasa pedihnya masih membekas sampai menusuk lapisan hati yang paling dalam. Aku coba untuk tetap jalani hari-hari seperti biasa, tapi tetap tak bisa biasa. Membiasakan hal-hal kecil yang pelan-pelan mulai menghilang bukan hal mudah. Apalagi ini tentang ibu yang selalu ada dari mulai aku merangkak sampai kini mampu berlari sendiri. Mustahil bukan? Tepat tiga tahun berlalu semenjak sarapan nasi goreng spesial buatan ibu yang aku makan di hari itu. Rasanya setiap nasi goreng yang aku makan setelahnya hingga kini selalu hambar. Sebab tak ada cinta ibu yang terlibat di dalamnya. Sesak. Tapi, lagi-lagi aku coba menguatkan diri sendiri. Di hari-hariku yang sepi, aku mulai termenung sambil memikirkan, “Ke siapa lagi bakti dan peduli harus aku limpahkan jika bukan pada ibu?” Kata orang-orang terdekat bilang, “Sekarang cari saja ayahmu dan mulai hidupmu yang baru bersamanya.” Hah! Yang benar saja, mana mungkin aku sudi hidup bersama orang yang bahkan tidak pe...

Melihatmu Pergi Di Februari

Tidak terasa sudah sebulan tepat berlalu kita menghabiskan banyak waktu bersama. Menemanimu di saat kamu sudah tidak mampu percaya lagi. Berjalan bersama dengan banyak ketidaksempurnaan. Dan denganmu, aku pun merasa mampu menjadi diriku sendiri. Aku pikir jika denganmu bisa berjalan dengan baik nantinya. Bersama pelan-pelan kita lalui satu bulan terakhir ini dengan saling mengenali dan mengerti satu sama lain. Kamu yang masih belum bisa percaya sebab segala macam yang telah kamu lalui di masa lalu. Pun juga aku, yang masih carut marut dengan diriku sendiri bisa kamu terima. Kamu tahu, aku merasa hidup bisa menghabiskan banyak waktu denganmu. Mendengar setiap cerita dan keluh kesahmu malah jadi tambahan napas untuk aku bisa melangkah lebih jauh lagi. Ucapan selamat pagi yang menjadi notifikasi nomor satu yang selalu aku tunggu setiap aku bangun dari tidurku jadi tambahan penyemangat memulai hari. Dampak hadirmu sangat besar buatku, pun aku ingin membuatmu merasakan berbagai macam hal-ha...

Sekeranjang Doa-doa Manis Untukmu yang Tersayang

Pukul empat sore dengan ditemani hujan yang turun cukup deras. Bulir-bulirnya membasahi tanah bergantian dengan ritme yang tidak menentu. Aku merasa cukup cemas, karena semakin lama, hujannya semakin deras. Padahal belum juga jas hujan yang baru aku jemur kemarin siang kering sepenuhnya. Belakangan ini hujan cukup sering datang, mulai dari gerimis kecil hingga petir menggelegar juga ikut datang menyambar. Kembali aku lihat kalender di ponselku, ternyata kini sudah Desember. “Ahh..pantas saja hujan sering turun, kan memang sudah masuk musim penghujan.” Keluhku sambil melamun di toko kopi sederhana sembari menunggu hujan reda. Lalu aku renungkan kembali, Desember artinya sudah berada di pengujung tahun. Setelah ini selesai, dan kembali lagi memulai tahun yang baru. Aku mengambil buku catatanku sambil menulis doa-doa yang kurapalkan untuk kamu yang tersayang, yang kadangkala juga terlupakan. Adalah untuk aku, diriku sendiri. Apresiasi tertinggi untuk kamu yang sudah melewati tahun ini m...