“Halo halo, jadi bagaimana keadaanmu di sana? Aku mau bilang kalau sekarang hidupku sering berpindah. Ke mana saja mengikuti jejakmu pelan-pelan. Belakangan aku pernah tinggal di kota kelahiranmu. Cuacanya panas luar biasa, seperti memang Tuhan menciptakan lima matahari untuk setiap orangnya. Jadi seperti ini ya, kota besar yang menempa dirimu saat muda dulu. Aku juga masih ingat pernah kamu ajak main ke kota ini, tapi itu sudah lama sekali. Sedikit samar tapi masih terbayang saat itu mampir ke rumah orang tuamu. Di pinggir jalan raya yang ramai dengan kendaraan bersileweran seolah jalan raya tak pernah benar-benar tidur. Bis-bis besar dan truk muatan besar sering melaju cepat sampai getarannya terasa di kamar tidur. Selain getaran dari kendaraan di jalan raya, suara bisingnya juga menembus tembok membuatmu selalu merasa khawatir kalau saja tidurku jadi tidak nyaman. Aku masih ingat, dan semakin aku ingat getarannya menembus lintas waktu, menusuk tepat di dada. Rasanya sesak. Kali ini ...
TERKADANG MULUT SULIT BERUCAP MAKA TULISAN MENJADI JALAN PINTASNYA