Skip to main content

Posts

Showing posts with the label patah hati

Malam Ini Bulannya Cantik, Ya?

Senin pagi, sebelum memulai hari sudah aku pastikan dulu pesan ucapan selamat pagi dariku terkirim centang dua menuju nomor Whatsappmu. Tidak berselang lama, ceklis centang dua berubah warna biru jadi tanda ucapannya sudah tersampaikan dan dibaca tuntas olehmu. “Pagi juga jagoan!” Balasmu cepat. Ucapan selamat pagi yang singkat dan terjadi berulang tapi tidak pernah bosan-bosannya aku baca selalu. Seakan jadi booster tambahan untuk menerabas segala macam mungkin yang belum pasti. Rasanya percaya selalu utuh meski banyak manusia lain yang pergi, tapi aku selalu tahu ada kamu yang tetap tinggal menemani. Hari-hari itu penuh menyenangkan, bahkan tidak ada satu hari pun yang aku sesali. Masuk di jam kerja kadang-kadang bibirku senyum-senyum sendiri sambil membaca pesan terbaru darimu. Ditambah Anything You Want dari Reality Club yang terputar sopan di telinga. Waktu rasanya bergulir lamban dibarengi dengan hormon serotonin yang mengalir kencang ke seluruh tubuh. Tentu, hal seperti ini tid...

Di Mana Letak Surga Jika Ibu Sudah Tak Ada?

Tiga tahun ibu sudah berpulang, tapi rasa pedihnya masih membekas sampai menusuk lapisan hati yang paling dalam. Aku coba untuk tetap jalani hari-hari seperti biasa, tapi tetap tak bisa biasa. Membiasakan hal-hal kecil yang pelan-pelan mulai menghilang bukan hal mudah. Apalagi ini tentang ibu yang selalu ada dari mulai aku merangkak sampai kini mampu berlari sendiri. Mustahil bukan? Tepat tiga tahun berlalu semenjak sarapan nasi goreng spesial buatan ibu yang aku makan di hari itu. Rasanya setiap nasi goreng yang aku makan setelahnya hingga kini selalu hambar. Sebab tak ada cinta ibu yang terlibat di dalamnya. Sesak. Tapi, lagi-lagi aku coba menguatkan diri sendiri. Di hari-hariku yang sepi, aku mulai termenung sambil memikirkan, “Ke siapa lagi bakti dan peduli harus aku limpahkan jika bukan pada ibu?” Kata orang-orang terdekat bilang, “Sekarang cari saja ayahmu dan mulai hidupmu yang baru bersamanya.” Hah! Yang benar saja, mana mungkin aku sudi hidup bersama orang yang bahkan tidak pe...

Sore Nanti, Dia Tidak Dirayakan Lagi

Sore hari yang teduh saat aku menghabiskan sebatang rokok sambil menunggu jadwal keretaku. Dari area khusus merokok, aku melihat sosok perempuan dari balik punggungnya yang terlihat antusias menantikan sesuatu. Dia sedang celingak-celinguk diantara kerumunan orang-orang yang sedang merayakan pertemuan, juga perpisahan. Terlihat dengan memakai setelan baju formal warna tosca, dilengkapi dengan pita rambut kecil warna pink menjepit sebagian rambut sampingnya yang terurai lembut sambil membawa tumbler warna ungu kesukaannya yang digenggam erat-erat. Di depan stasiun kota, aku lihat lagi genggamannya semakin erat seakan tumbler itu tidak boleh lepas darinya. Rupanya, dia sedang menunggu seseorang untuk melepas rindunya yang sudah lama dipendam. Seorang laki-laki yang ditunggu-tunggu itu muncul tepat di hadapannya. Laki-laki berkacamata dengan memakai kemeja warna merah marun dan celana panjang warna krem. Dia membawa tas punggung warna cokelat yang cukup besar, mungkin saja untuk memuat ba...

Jerit Jemari

Aku menulis ini dalam kondisi setengah sadar di malam yang semakin larut saja, namun mata tetap terjaga sebab masih banyak yang berisik di dalam isi kepala. Perihal kata-kata yang sulit diucapkan oleh lidah, aku selalu payah mengungkapkannya. Bagaimana bisa beberapa dari mereka lancar-lancar saja untuk berkata-kata tentang apa-apa yang ada di dalam isi kepala? Menyebalkan. Kadang aku iri ingin bisa melakukan hal lancang seperti itu. Namun selalu saja semua yang ingin dilontarkan mulut hanya tertahan di pikiran.

Fractura Hepatica

Masih teringat jelas dalam ingatan satu hari setelah kepergianmu. Rasanya masih biasa-biasa saja, tak ada yang berbeda. Aku masih berkegiatan dengan normal. Berangkat kuliah seperti biasa, menulis laporan praktikum secara rutin, ketawa sana-sini dengan teman-teman, semuanya masih terasa normal-normal saja. Kini, 7 bulan telah berlalu dan rasanya ada yang berbeda. Entah, kenapa baru sekarang efeknya baru terasa di saat aku sudah siap untuk menerima hati yang baru. Mungkin hukuman, mungkin juga balasan, aku tidak tahu.

Rekayasa Perasaan

Malam ini, aku sedang terdiam di dalam kamar yang masih saja berantakan dengan tumpukan kertas -kertas yang biasa aku sebut laporan. Akhir - akhir ini ada saja hal mengganggu pikiran ku . Entah itu soal tugas kuliah, keluarga atau hal -hal yang merepotkan lainnya. Bukan hanya perihal pikiran, tapi juga tentang perasaan yang kadang-kadang suka merasa seenaknya sendiri . Aku tidak tahu sebenarnya perasaan apa ini. Sudah cukup lama aku merasakan seperti ini, yang aku sendiri sama sekali tidak mengerti .

Desember, Cepatlah Pergi!

Tidak terasa sudah berada di penghujung tahun ini, tepat di tanggal 31 Desember 2018. Ada baiknya mencoba untuk mengingat kembali apa saja yang sudah terjadi sebelumnya, tentang peristiwa-peritiwa yang sudah terlewat begitu saja. Tentang tahun ini, bisa kusebut dengan “Tahun Keguguran”, sebab banyak bencana di mana-mana, banyak nyawa berguguran, banyak orang menangisi kehilangan. Tahun ini negeriku sedang berduka, begitu pula dengan hatiku.

Takut PATAH HATI Kembali

Malam ini di sebuah kedai kopi sederhana ditemani dengan secangkir cappucinno yang masih cukup panas dengan suasana malam di kota Malang yang selalu saja dingin seperti sikap dia. Gak tau kenapa, malam ini aku tiba-tiba inget betapa cemennya aku waktu itu. Sambil mengingat ingat, refleks saja aku cekikikan sendiri kayak orang kurang waras ditambah lagi dilirik manja sama mas mas yang duduk di sebelah aku. Oke, abaikan tentang mas mas yang itu-_- Balik lagi ke cerita utama, jadi