Skip to main content

Posts

Showing posts with the label pengingat

Samsara Jelita

Pukul 10 pagi, perasaan tidak tenang, cemas yang terlalu berlebih untuk memulai hari. Dia masih ada di mana-mana. Melekat di dalam kepala, menjelma debu-debu di kolong meja kerja, sampai meyerupai bulir-bulir darah yang mengalir deras di arteri. Semakin lama, semakin dekat hingga rasanya seperti leher tercekik kuat. Napas terengah-engah, rupanya ini semakin menyiksa. Tapi… Sebentar. Ada notifikasi baru di handphoneku. Ternyata, dia datang lagi berupa pesan WhatsApp, “Kamu di mana? Balasnya kok lama, lagi sama siapa kamu? JAWAB TELPONKU SEKARANG!” Tanganku gemetar hebat. Ini bukan kejadian sekali, dua kali, ini bahkan repetitif yang sudah berulang berkali-kali. Meski begitu, jariku tetap gentar menerima panggilan darinya. Karena pasti yang aku dengar adalah segala macam sumpah serapah yang terucap dengan liar tanpa jeda dari mulutnya. Aku bergeming, membiarkan handphoneku bergetar hingga panggilan itu berakhir dengan sendirinya. Tidak berselang lama, muncul lagi serentetan panggilan den...

Aritmia

Kehilangan selalu tidak pernah menyenangkan. Artinya ada sesuatu yang kamu lepaskan, entah memang harus dilakukan ataupun terpaksa karena keadaan. Perasaan kosong karena ada hal yang akhirnya berbeda dari biasanya harus segera dibiasakan. Menerima jadi jalan untuk tetap bertahan. Kata orang kebanyakan, “Kamu harus kuat”, “Coba ikhlaskan saja”, “Memang jalannya seperti itu, diterima ya.” Yang semua intinya adalah membiasakan diri dengan kehilangan. Mereka tidak salah, tapi juga tidak mudah untuk diterima. Ditambah kehilangan seseorang maupun sosok yang sangat berdampak dalam hidup, pastinya tidak mudah, bukan? Aku mencoba menerima bertahun-tahun. Mencoba yang mereka sebut ikhlas, tapi di dalam dada yang ada rasanya sesak berantakan. Rasanya seperti dadamu ditusuk dengan bilah pedang yang tajam, sialnya tidak hanya satu, tapi puluhan bahkan ratusan bilah pedang menusuk tepat di dada kirimu lalu mengoyak liar jantungmu sampai detaknya tak karuan. Brutal. Lalu aku tetap teruskan ...

Di Mana Letak Surga Jika Ibu Sudah Tak Ada?

Tiga tahun ibu sudah berpulang, tapi rasa pedihnya masih membekas sampai menusuk lapisan hati yang paling dalam. Aku coba untuk tetap jalani hari-hari seperti biasa, tapi tetap tak bisa biasa. Membiasakan hal-hal kecil yang pelan-pelan mulai menghilang bukan hal mudah. Apalagi ini tentang ibu yang selalu ada dari mulai aku merangkak sampai kini mampu berlari sendiri. Mustahil bukan? Tepat tiga tahun berlalu semenjak sarapan nasi goreng spesial buatan ibu yang aku makan di hari itu. Rasanya setiap nasi goreng yang aku makan setelahnya hingga kini selalu hambar. Sebab tak ada cinta ibu yang terlibat di dalamnya. Sesak. Tapi, lagi-lagi aku coba menguatkan diri sendiri. Di hari-hariku yang sepi, aku mulai termenung sambil memikirkan, “Ke siapa lagi bakti dan peduli harus aku limpahkan jika bukan pada ibu?” Kata orang-orang terdekat bilang, “Sekarang cari saja ayahmu dan mulai hidupmu yang baru bersamanya.” Hah! Yang benar saja, mana mungkin aku sudi hidup bersama orang yang bahkan tidak pe...

Sekeranjang Doa-doa Manis Untukmu yang Tersayang

Pukul empat sore dengan ditemani hujan yang turun cukup deras. Bulir-bulirnya membasahi tanah bergantian dengan ritme yang tidak menentu. Aku merasa cukup cemas, karena semakin lama, hujannya semakin deras. Padahal belum juga jas hujan yang baru aku jemur kemarin siang kering sepenuhnya. Belakangan ini hujan cukup sering datang, mulai dari gerimis kecil hingga petir menggelegar juga ikut datang menyambar. Kembali aku lihat kalender di ponselku, ternyata kini sudah Desember. “Ahh..pantas saja hujan sering turun, kan memang sudah masuk musim penghujan.” Keluhku sambil melamun di toko kopi sederhana sembari menunggu hujan reda. Lalu aku renungkan kembali, Desember artinya sudah berada di pengujung tahun. Setelah ini selesai, dan kembali lagi memulai tahun yang baru. Aku mengambil buku catatanku sambil menulis doa-doa yang kurapalkan untuk kamu yang tersayang, yang kadangkala juga terlupakan. Adalah untuk aku, diriku sendiri. Apresiasi tertinggi untuk kamu yang sudah melewati tahun ini m...

Tentang Rara dan Macam Hal Lainnya

Namanya Ekavira, karena cukup panjang untuk sebuah nama panggilan, jadi aku biasa memanggilnya dengan panggilan Rara. Perempuan paling berani yang pernah aku temui di kota kecil ini. Dia ceroboh, emosinya kadang meluap tak tentu. Namun Rara cukup tangguh menghadapi banyak hal yang mengahalangi Sebenarnya aku sudah mengenalnya cukup lama, tapi saat itu masih sangat terbatas untuk kita saling komunikasi. Kemudian belakangan ini, aku jadi cukup sering bertemu dengannya dan mengobrol karena ada kesamaan tujuan dalam hal pekerjaan. Di momen itu, aku mulai mengenalnya lebih dari sekadar namanya saja. Rara cukup frontal orangnya, meskipun terkadang masih sembunyi-sembunyi untuk terus terang dengan perasaannya. Dia cukup aktif berbicara. Rara terlihat bersemangat sekali ketika mulai menceritakan tentang dirinya. Rupanya dugaanku salah. Awalnya aku kira dia adalah orang yang pendiam. Meski suka sekali bercerita, ada momen dimana wajahnya pucat kelelahan seperti orang yang kehabisan tenaga. “K...

Lonjakan Ingatan

Aku tidak menemukanmu di musim berikutnya. Pergi ke mana kamu? Apa sudah menemukan tempat tinggal yang baru? Sore ini sambil duduk-duduk di teras kedai kopi langganan kita, aku teringat obrolan panjang terakhir kita di malam itu diselingi dengan suara tawamu yang menggemaskan lalu diakhiri oleh tangis dari kita berdua Pipi kita basah, air mata mengalir deras, degub jantung berdetak tak beraturan. Ada hubungan yang harus diakhiri meski mencoba melawan terus-menerus malah semakin menyakitkan bersama. Ini sudah lewat hampir 3 tahun saat cerita kita tak lagi bersambung. Banyak hal yang ingin aku ceritakan tentang hidupku saat ini kepadamu Tidurku sekarang sudah tak takut lagi dengan gelap, malahan aku sudah terbiasa tidur dengan kondisi kamar tanpa penerangan. Kadang-kadang pas makan soto sudah aku tambahkan sedikit kecap sebagai pelengkap, karena katamu rasa harus seimbang. Ada manis, gurih, asin, dan banyak rasa yang menjadikan sotonya jadi tambah enak Meskipun sampai sekarang ...

Aku Dihujam Duka Terus-terusan

Bagaimana rasanya ditinggalkan mendadak tanpa aba-aba? Bagaimana rasanya merasa kehilangan yang teramat dalam sampai mengutuk takdir? Bagaimana rasanya menyalahkan diri sendiri atas kematian seseorang hingga penyesalan menghantui seumur hidup? Jadi, bagaimana rasanya?   Satu kata. Hancur.   4 tahun sudah berlalu, tapi kematianmu belum bisa aku terima secara penuh. Aku tersiksa dengan ingatan duka yang selalu datang seenaknya ia mau. Menyakitkan rasanya ketika setiap mataku mulai terpejam dan yang terlihat adalah sekumpulan peristiwa acak yang isinya momen-momen bersama denganmu. Aku masih ingat, saat kamu mengantarku ke sekolah di saat hujan deras dan badanku melekat erat memelukmu dari belakang untuk berbagi jas hujan denganmu. Aku masih ingat, saat kita menghabiskan waktu dengan mancing bersama di setiap libur kerjamu. Sebab pulangmu yang 3-5 bulan sekali jadi jarang sekali kita punya waktu bersama. Aku masih ingat, kamu yang suka sekali dengan ikan akh...

Datang Lagi, Juni

Tidak terasa sudah sampai di bulan Juni. Artinya sudah setengah tahun ini aku lewati hari-hari dengan begitu saja. Berjuangnya ada, murungnya juga tidak terlewat, kadang gembira jadi emosi yang paling dinanti meski tidak selalu hadir setiap hari. Banyak yang bilang juga, bulan Juni berarti bulan puisi. Beragam rasa yang tercipta di bulan Juni sampai-sampai Pak Sapardi menulis puisinya yang berjudul "Hujan Bulan Juni" dengan bait-bait yang teduh dan lembut tapi cukup sesak untuk ditelaah. Doa baik mengalir untuk Pak Sapardi, dalam sunyi kamu abadi. Lalu bagiku bulan Juni itu apa? Tidak ada. Juni sama saja seperti Januari, Februari, Maret, dan bulan-bulan lainnya. Aku bisa berpuisi setiap hari, aku pun bisa patah hati yang tak harus di bulan Juni. Segala macam emosi bisa terjadi kapan saja, dan bulan Juni bukan apa-apa.   Tidak ada yang spesial dari Juni, tapi ia selalu punya kesan yang baik. Juni pandai bercerita, ia juga tidak pernah bosan mendengarkan. Terkadang Juni m...

TERBAKAR

Masih ingat denganku? Harapan yang pernah kamu jadikan doa utama sebelum terlelap. Aku ini angan sekaligus ingin yang pernah menjadi nomor satu favoritmu. Aku ini ambisi yang meluap liar hingga rela merusak diriku sendiri hanya untuk menyenangkanmu. Lalu, apa lagi yang kamu tuntut kalau kita bersama sudah hancur lebur? Bahkan badanku sendiri sudah babak belur. Culas! Semua yang kita jalani dan lakukan bersama rupanya adalah sekumpulan caramu untuk membakar rencana-rencana yang sudah dirancang dengan baik. Lalu semua diputarbalikkan seakan-akan hanya aku yang bersalah, sementara kamu tidak pernah mau kalah. Namun, syukurlah itu semua berantakan... 12 tahun berlalu, bukan waktu yang singkat. Kita lalui 12 tahun bersama dan aku semakin tahu, kamu adalah api yang semakin membakarku perlahan. Menggerogoti impian dan harapan pelan-pelan hingga pasrah yang tersisa. Kita sudah terbakar selama itu. Apa kamu selalu nyaman dengan panasnya? Atau memang ini yang kamu inginkan sedari awal? Kita suda...

Ternyata, Kamu Tidak Seistimewa Itu

Kita terlibat dalam satu momen yang entah sudah diatur atau memang harus terjadi saat itu juga. Aku sudah mengenalmu sebelumnya, tapi hanya sekadar tahu namamu dan perintilan tugas-tugas yang kamu kerjakan setiap hari. Lalu, aku semakin mengenalmu seiring dengan pertemuan dan pertemuan lainnya.   Kita jadi sering mengobrol, bertukar cerita, saling melempar tawa dengan jokes yang receh sebab humorku tidak sebaik Raditya Dika, dan aku lebih sibuk untuk sering menatap matamu. Rupanya, kamu tidak seceria itu. Aku lihat serpihan kesedihan tepat di pusat retinamu yang hitam legam itu. Matamu sedih. Tapi, mulutmu terus saja mengoceh tak kenal letih tentang hal-hal yang menyenangkan. Panggil aku sok tahu!   Namun aku kenal betul tentang tatap yang kesepian, menanggung apa-apa sendiri agar dinilai kuat dan mandiri.   "Kenapa kamu bersikeras sekali menjadi kamu yang bukan kamu?" "Ketakutan apa yang selama ini kamu sembunyikan di belakang senyum palsumu?" "Atau mungkin, ...

Pengingat untuk Diri Sendiri

Apa kabar untuk aku sepuluh tahun ke depan? Kuharap kamu agar selalu baik-baik saja. Karena saat ini, aku seringkali merasa tidak baik-baik saja. Semenjak menginjak usia 20-an, aku merasa dunia semakin rumit, pikiranku semakin sempit. Rasanya sangat sulit sekali agar bisa tidur dengan tenang, sulit sekali untuk merasa aman dan nyaman. Terlalu banyak ketakutan-ketakutan yang memenuhi isi kepala. Kuharap kamu sudah bisa mengatasinya.