Skip to main content

Posts

Showing posts with the label kenangan

Perayaan Tahun Kelima

10 Juni 2020. Iya, sudah lima tahun berlalu sejak kematianmu. Dan di tahun ini akan aku rayakan dengan menuliskan segala macam hal yang sudah berlalu lama, tapi pedihnya masih terasa nyata. Aku mulai dengan banyak maaf untukmu. Bapak, maaf, kolam ikan kesukaanmu di depan rumah sudah aku ratakan menahun yang lalu. Soalnya setiap pagi kalau aku lihat malah semakin menyayat hati. Aku juga sudah tidak sudi menguras kolamnya sendiri. Apalagi melihat ibu yang selalu sedih setiap kali memberi makan ikan-ikannya. Pekarangan kecil di sekitar rumah yang biasanya kamu isi dengan ragam tanaman juga sudah aku tindih semen hari ini. Agar tidak perlu lagi ada kesedihan yang tumbuh di rumah ini. Kemudian aku lanjutkan dengan membuka kembali ingatan yang semakin menggores hati. Aku masih ingat betul, di tahun kedua kematianmu. Aku berhenti memakai baju bekasmu dan mulai mengosongkan setumpuk bajumu dari dalam lemari. Tapi istrimu malah mengomel dan memarahiku. Katanya dengan napas yang berantakan, ...

Dia Bertumbuh, Tapi Tak Kunjung Sembuh

Sore tadi pukul lima, aku bertemu dengan dia yang sudah lama tidak jumpa. Mungkin sekitar tiga tahun. Bukan, lima tahun lebih sejak pertemuan terakhir kita waktu itu. Aku lihat lagi dirinya penuh dengan perasaan yang berbeda kali ini. Tampak dari penampilan tidak banyak perubahan yang berbeda sejak pertemuan terakhir. Suara tawanya pun masih terdengar sama. Dia tetap orang yang sama yang aku kenal sejak sekian tahun. Aku menyapa dengan biasa, "Hei! Apa kabar? Bagaimana hidupmu sekarang?" Dia membalas dengan senyum kecil dan suara yang lembut, "Baik, sejauh ini terkendali kok. Kamu gimana?" "Aku? Hmm.. aku ya begini, masih bernapas dan menikmati hidup." Balasku sambil mikir-mikir tentang keadaanku saat ini. Kita melanjutkan berkeliling kota yang kata orang kota ini terkenal dengan suhunya yang cukup dingin saat musim para mahasiswa baru memulai awal perkulihannya. "Lanjut makan yuk! Makan apa enaknya?" "Ada nih, aku punya tempat makan rekomen...

Di Mana Letak Surga Jika Ibu Sudah Tak Ada?

Tiga tahun ibu sudah berpulang, tapi rasa pedihnya masih membekas sampai menusuk lapisan hati yang paling dalam. Aku coba untuk tetap jalani hari-hari seperti biasa, tapi tetap tak bisa biasa. Membiasakan hal-hal kecil yang pelan-pelan mulai menghilang bukan hal mudah. Apalagi ini tentang ibu yang selalu ada dari mulai aku merangkak sampai kini mampu berlari sendiri. Mustahil bukan? Tepat tiga tahun berlalu semenjak sarapan nasi goreng spesial buatan ibu yang aku makan di hari itu. Rasanya setiap nasi goreng yang aku makan setelahnya hingga kini selalu hambar. Sebab tak ada cinta ibu yang terlibat di dalamnya. Sesak. Tapi, lagi-lagi aku coba menguatkan diri sendiri. Di hari-hariku yang sepi, aku mulai termenung sambil memikirkan, “Ke siapa lagi bakti dan peduli harus aku limpahkan jika bukan pada ibu?” Kata orang-orang terdekat bilang, “Sekarang cari saja ayahmu dan mulai hidupmu yang baru bersamanya.” Hah! Yang benar saja, mana mungkin aku sudi hidup bersama orang yang bahkan tidak pe...

Melihatmu Pergi Di Februari

Tidak terasa sudah sebulan tepat berlalu kita menghabiskan banyak waktu bersama. Menemanimu di saat kamu sudah tidak mampu percaya lagi. Berjalan bersama dengan banyak ketidaksempurnaan. Dan denganmu, aku pun merasa mampu menjadi diriku sendiri. Aku pikir jika denganmu bisa berjalan dengan baik nantinya. Bersama pelan-pelan kita lalui satu bulan terakhir ini dengan saling mengenali dan mengerti satu sama lain. Kamu yang masih belum bisa percaya sebab segala macam yang telah kamu lalui di masa lalu. Pun juga aku, yang masih carut marut dengan diriku sendiri bisa kamu terima. Kamu tahu, aku merasa hidup bisa menghabiskan banyak waktu denganmu. Mendengar setiap cerita dan keluh kesahmu malah jadi tambahan napas untuk aku bisa melangkah lebih jauh lagi. Ucapan selamat pagi yang menjadi notifikasi nomor satu yang selalu aku tunggu setiap aku bangun dari tidurku jadi tambahan penyemangat memulai hari. Dampak hadirmu sangat besar buatku, pun aku ingin membuatmu merasakan berbagai macam hal-ha...

Tentang Rara dan Macam Hal Lainnya

Namanya Ekavira, karena cukup panjang untuk sebuah nama panggilan, jadi aku biasa memanggilnya dengan panggilan Rara. Perempuan paling berani yang pernah aku temui di kota kecil ini. Dia ceroboh, emosinya kadang meluap tak tentu. Namun Rara cukup tangguh menghadapi banyak hal yang mengahalangi Sebenarnya aku sudah mengenalnya cukup lama, tapi saat itu masih sangat terbatas untuk kita saling komunikasi. Kemudian belakangan ini, aku jadi cukup sering bertemu dengannya dan mengobrol karena ada kesamaan tujuan dalam hal pekerjaan. Di momen itu, aku mulai mengenalnya lebih dari sekadar namanya saja. Rara cukup frontal orangnya, meskipun terkadang masih sembunyi-sembunyi untuk terus terang dengan perasaannya. Dia cukup aktif berbicara. Rara terlihat bersemangat sekali ketika mulai menceritakan tentang dirinya. Rupanya dugaanku salah. Awalnya aku kira dia adalah orang yang pendiam. Meski suka sekali bercerita, ada momen dimana wajahnya pucat kelelahan seperti orang yang kehabisan tenaga. “K...

Aku Dihujam Duka Terus-terusan

Bagaimana rasanya ditinggalkan mendadak tanpa aba-aba? Bagaimana rasanya merasa kehilangan yang teramat dalam sampai mengutuk takdir? Bagaimana rasanya menyalahkan diri sendiri atas kematian seseorang hingga penyesalan menghantui seumur hidup? Jadi, bagaimana rasanya?   Satu kata. Hancur.   4 tahun sudah berlalu, tapi kematianmu belum bisa aku terima secara penuh. Aku tersiksa dengan ingatan duka yang selalu datang seenaknya ia mau. Menyakitkan rasanya ketika setiap mataku mulai terpejam dan yang terlihat adalah sekumpulan peristiwa acak yang isinya momen-momen bersama denganmu. Aku masih ingat, saat kamu mengantarku ke sekolah di saat hujan deras dan badanku melekat erat memelukmu dari belakang untuk berbagi jas hujan denganmu. Aku masih ingat, saat kita menghabiskan waktu dengan mancing bersama di setiap libur kerjamu. Sebab pulangmu yang 3-5 bulan sekali jadi jarang sekali kita punya waktu bersama. Aku masih ingat, kamu yang suka sekali dengan ikan akh...

TERBAKAR

Masih ingat denganku? Harapan yang pernah kamu jadikan doa utama sebelum terlelap. Aku ini angan sekaligus ingin yang pernah menjadi nomor satu favoritmu. Aku ini ambisi yang meluap liar hingga rela merusak diriku sendiri hanya untuk menyenangkanmu. Lalu, apa lagi yang kamu tuntut kalau kita bersama sudah hancur lebur? Bahkan badanku sendiri sudah babak belur. Culas! Semua yang kita jalani dan lakukan bersama rupanya adalah sekumpulan caramu untuk membakar rencana-rencana yang sudah dirancang dengan baik. Lalu semua diputarbalikkan seakan-akan hanya aku yang bersalah, sementara kamu tidak pernah mau kalah. Namun, syukurlah itu semua berantakan... 12 tahun berlalu, bukan waktu yang singkat. Kita lalui 12 tahun bersama dan aku semakin tahu, kamu adalah api yang semakin membakarku perlahan. Menggerogoti impian dan harapan pelan-pelan hingga pasrah yang tersisa. Kita sudah terbakar selama itu. Apa kamu selalu nyaman dengan panasnya? Atau memang ini yang kamu inginkan sedari awal? Kita suda...

Ternyata, Kamu Tidak Seistimewa Itu

Kita terlibat dalam satu momen yang entah sudah diatur atau memang harus terjadi saat itu juga. Aku sudah mengenalmu sebelumnya, tapi hanya sekadar tahu namamu dan perintilan tugas-tugas yang kamu kerjakan setiap hari. Lalu, aku semakin mengenalmu seiring dengan pertemuan dan pertemuan lainnya.   Kita jadi sering mengobrol, bertukar cerita, saling melempar tawa dengan jokes yang receh sebab humorku tidak sebaik Raditya Dika, dan aku lebih sibuk untuk sering menatap matamu. Rupanya, kamu tidak seceria itu. Aku lihat serpihan kesedihan tepat di pusat retinamu yang hitam legam itu. Matamu sedih. Tapi, mulutmu terus saja mengoceh tak kenal letih tentang hal-hal yang menyenangkan. Panggil aku sok tahu!   Namun aku kenal betul tentang tatap yang kesepian, menanggung apa-apa sendiri agar dinilai kuat dan mandiri.   "Kenapa kamu bersikeras sekali menjadi kamu yang bukan kamu?" "Ketakutan apa yang selama ini kamu sembunyikan di belakang senyum palsumu?" "Atau mungkin, ...

Babak Baru

Selalu sulit untuk memulai yang baru lagi. Kamu harus mulai dari awal untuk membiasakan diri dengan segala macam hal yang baru. Menyesuaikan, menyocokkan, bahkan sampai harus mencari tahu hal-hal yang kamu tidak tahu sebelumnya. Tapi, ini memang harus dilakukan. Meski terkadang masa lalu akan selalu datang menembak tepat di ingatan dan terbayang lagi cerita lama yang sudah dilalui bersama.

Jerit Jemari

Aku menulis ini dalam kondisi setengah sadar di malam yang semakin larut saja, namun mata tetap terjaga sebab masih banyak yang berisik di dalam isi kepala. Perihal kata-kata yang sulit diucapkan oleh lidah, aku selalu payah mengungkapkannya. Bagaimana bisa beberapa dari mereka lancar-lancar saja untuk berkata-kata tentang apa-apa yang ada di dalam isi kepala? Menyebalkan. Kadang aku iri ingin bisa melakukan hal lancang seperti itu. Namun selalu saja semua yang ingin dilontarkan mulut hanya tertahan di pikiran.

Fractura Hepatica

Masih teringat jelas dalam ingatan satu hari setelah kepergianmu. Rasanya masih biasa-biasa saja, tak ada yang berbeda. Aku masih berkegiatan dengan normal. Berangkat kuliah seperti biasa, menulis laporan praktikum secara rutin, ketawa sana-sini dengan teman-teman, semuanya masih terasa normal-normal saja. Kini, 7 bulan telah berlalu dan rasanya ada yang berbeda. Entah, kenapa baru sekarang efeknya baru terasa di saat aku sudah siap untuk menerima hati yang baru. Mungkin hukuman, mungkin juga balasan, aku tidak tahu.

Bunyi-Bunyi Tersembunyi

Pukul 4 sore waktu Indonesia bagian sepi. Aku termenung di kedai kopi betemankan sunyi. Suasana di dalam kedai masih sepi, cuma ada aku dan secangkir vietnam coffee , juga kudapan yang sudah aku pesan sedari tadi. Aku tak mengajak siapa-siapa kemari, termasuk juga kau. Sebab hatiku ingin rekreasi saat ini.

Desember, Cepatlah Pergi!

Tidak terasa sudah berada di penghujung tahun ini, tepat di tanggal 31 Desember 2018. Ada baiknya mencoba untuk mengingat kembali apa saja yang sudah terjadi sebelumnya, tentang peristiwa-peritiwa yang sudah terlewat begitu saja. Tentang tahun ini, bisa kusebut dengan “Tahun Keguguran”, sebab banyak bencana di mana-mana, banyak nyawa berguguran, banyak orang menangisi kehilangan. Tahun ini negeriku sedang berduka, begitu pula dengan hatiku.

Ketemu Teman Jaman Dulu

Beberapa waktu yang lalu, kira kira 3 bulan yang lalu terhitung saat aku nulis tulisan ini, aku pergi ke luar kota, tepatnya ke Jogja. Bukan untuk liburan ataupun senang senang, tapi karena harus ikut test. Aku ke Jogja sendiri, ya, sendiri tanpa ada yang menemani lululululu~ oke skip. Selain karena untuk menghemat pengeluaran, tapi memang gak ada yang bisa diajak. Temen temenku juga pada sibuk sendiri sendiri semua, keluarga juga pada sibuk dan akhirnya aku memutuskan untuk berangkat sendiri aja. Ini juga pertama kalinya aku trip jauh dari rumah sendirian. Persiapan sih biasa aja kayak biasanya. Aku rasa semalam aja udah cukup buat nyiapin segalanya, aku juga udah belajar buat testnya dan tiket kereta juga udah di tangan. Tingaal nunggu hari-H aja. Aku beli tiket sebulan sebelum berangkat, jadi masih ada waktu buat browsing-browsing tentang kota tujuanku, Jogja. Keasyikan browsing aku sampe lupa kalo tujuan utama aku ke Jogja buat ikut test bukan liburan haassshhhh-_-

A New Start

Yo haloooo!! SELAMAT TAHUN BARU 2016 buat kalian semua! Sorry, aku agak telat ngucapinnya LOL. Gak kerasa aja udah ganti kalender, padahal perasaan baru kemarin beli kalender 2015. Waktu emang ngeri, tanpa terasa ngalir gitu aja. Banyak cerita yang sudah tercipta di tahun 2015. Dimulai dari yang enak sampai yang agak enakan. Oke aku ralat. Dari suka maupun duka, dari yang ingin diingat terus, sampe yang bahkan ingin dilupakan. aku yakin ada banyak versi cerita dari kalian semua, dari yang kocak, melankolis, bahkan sampe tragis. Dan sekarang di postingan pertama aku di tahun 2016 ini, aku mau ngereview dikit tentang cerita versi aku selama 2015 ini.