Skip to main content

Dia Bertumbuh, Tapi Tak Kunjung Sembuh

Sore tadi pukul lima, aku bertemu dengan dia yang sudah lama tidak jumpa. Mungkin sekitar tiga tahun. Bukan, lima tahun lebih sejak pertemuan terakhir kita waktu itu.

Aku lihat lagi dirinya penuh dengan perasaan yang berbeda kali ini. Tampak dari penampilan tidak banyak perubahan yang berbeda sejak pertemuan terakhir. Suara tawanya pun masih terdengar sama. Dia tetap orang yang sama yang aku kenal sejak sekian tahun.

Aku menyapa dengan biasa, "Hei! Apa kabar? Bagaimana hidupmu sekarang?"

Dia membalas dengan senyum kecil dan suara yang lembut, "Baik, sejauh ini terkendali kok. Kamu gimana?"

"Aku? Hmm.. aku ya begini, masih bernapas dan menikmati hidup." Balasku sambil mikir-mikir tentang keadaanku saat ini.

Kita melanjutkan berkeliling kota yang kata orang kota ini terkenal dengan suhunya yang cukup dingin saat musim para mahasiswa baru memulai awal perkulihannya.

"Lanjut makan yuk! Makan apa enaknya?"

"Ada nih, aku punya tempat makan rekomen dan aku pastikan enak."

"Baiklah. Gass kita ke sana." Responku cepat karena percaya seleranya juga tidak seburuk itu soal makanan.

Sampai di tempat, dan memang rumah makan itu cukup ramai pengunjung. Terlebih dipenuhi orang-orang dengan style skena yang makan di tempat itu.

"Gokil juga, tempat yang disebut depot ini dikunjungi banyak orang skena." Pikirku dalam kepala

Kita memesan makan, minum, dan tidak ketinggalan cemilan juga yang dibawa pulang untuk dimakan sesudahnya nanti.


"Kacau sih ini, asli enak banget!"

"Benar kan? Ini memang enak makanannya dan juga porsinya bikin kenyang."

"Soal makan lagi nanti aku percayakan seleramu yang oke ini ya." 

Dalam hati aku membatin, “Benar kan. Seleranya soal makanan tidak buruk.”


Berlanjut di malam hari, saat kita mulai saling lempar cerita masing-masing. Dia dengan penuh cerita getir yang disampaikan dengan tutur kata yang lembut. Tanpa putus, tanpa jeda, mulutnya terus meracau tanpa titik.

Semakin membuat telingaku selalu mendengar setiap kata demi kata yang terlempar dari mulutnya. Juga mataku tidak lepas menatap wajahnya yang dengan serius menunjukkan ekspresi selaras dengan ceritanya. Matanya berbinar, seperti selama ini dia habiskan hidupnya seeking for something genuine.


Selama ini dia tumbuh, tapi sayangnya dia belum kunjung sembuh.


Luka-lukanya belum mengering betul. Dia coba banyak hal untuk tetap bertahan. Dia atasi setiap hambatan yang menghalang di depan. Dia buktikan kalau dengan tangan mungilnya itu, dia mampu menangkis setiap tatapan sinis dari orang-orang yang tidak percaya padanya.

Dia lakukan sendiri. Aku ulangi lagi. Semuanya, dia lakukan sendiri meski harus sambil menangis seharian tapi tetap dia lewati itu semua sendiri.


Hebat!


Sialan. Baru kali ini aku seperti melihat cerminan diri sendiri penuh di dirinya dalam versi yang berbeda. Sama-sama mencoba berani bertaruh untuk secuil keberuntungan dalam hidup. Sama-sama mencoba menerima segala macam variasi duka bertubi-tubi.


Sesak.


Padahal aku cuma mendengarkan ceritanya saja, tapi dadaku terasa benar-benar sesak. Semua momen itu terekam jelas di dalam memori yang tersimpan khusus di kepala. Rasanya seperti dihujam sepuluh pedang, bukan, bahkan seribu pedang menghujam tepat di titik rapuhmu. Mengoyak, menghunus langsung tembus ke dalam pertahananmu yang paling lemah. Berantakan.

Aku mencoba mengambil jeda sebentar dengan perasaan yang campur aduk.


“Kenapa bisa aku dikoyak habis-habisan seperti ini olehnya?” Membatinku diam-diam.


Bukan sekedar kata yang disampaikan oleh mulutnya, melainkan menjelma berbagai macam rasa. Aku sebutkan saja semua; kecewa, marah, suka, linglung, payah, rendah, tidak percaya, dan yang paling kelam; perasaan kuat melawan mati.

Berlanjut kini, air matanya jatuh basahi pipinya. Aku mencoba membalas perasaannya dengan caraku.

“Kalau kamu denganku yang sekarang, pun aku belum bisa menjamin bahagia untukmu. Jadi, untuk saat ini biar peranku yang menjadi keretamu saja. Mengantarmu anggun ke tujuanmu yang selanjutnya sampai kamu benar-benar tiba dengan perasaan penuh bahagia dan diterima” Jawabku pelan sambil melihatnya tersenyum kecil dengan perasaan lega.


Kamu dan segala macam impianmu, semoga mampu terlaksana kelak…
Bertahanlah.

Comments

Popular posts from this blog

Fragmen Kosmik Di Sorot Matanya

Kira-kira empat bulan berlalu setelah aku bertemu dengan dia untuk yang pertama kalinya. Ada yang berbeda setelahnya. Entah, sulit aku jelaskan dengan lugas. Tapi tubuhku jelas ada yang berubah. Meski terasa samar, namun aku yakin kadar hormon serotonin dalam tubuhku mendominasi. Menekan hebat perasaan stres dan cemas sehingga hormon kortisol seakan tak punya ruang untuk mengusik. Aku masih ingat dengan jelas saat dia tepat berada di sampingku. Tiba-tiba mulutku menjadi gugup dan menjawab pertanyaan darinya dengan serampangan kemudian rasanya saat tidak sengaja mata kita saling menatap, waktu menjadi melambat ekstrem seperti berada terlalu dekat dengan Gargantua . Sepersekian detik momen yang tercipta di antara tatap kita seperti terjadi dilatasi waktu, detik melamban dan ritme detak jantungku menjadi pelan. Hari demi hari setelahnya aku lewati dengan suka cita, perasaan bahagia yang langka kini mulai melekat seiring ritme detak jantungku yang lebih stabil. Bagaimana kamu biasanya s...

Malam Ini Bulannya Cantik, Ya?

Senin pagi, sebelum memulai hari sudah aku pastikan dulu pesan ucapan selamat pagi dariku terkirim centang dua menuju nomor Whatsappmu. Tidak berselang lama, ceklis centang dua berubah warna biru jadi tanda ucapannya sudah tersampaikan dan dibaca tuntas olehmu. “Pagi juga jagoan!” Balasmu cepat. Ucapan selamat pagi yang singkat dan terjadi berulang tapi tidak pernah bosan-bosannya aku baca selalu. Seakan jadi booster tambahan untuk menerabas segala macam mungkin yang belum pasti. Rasanya percaya selalu utuh meski banyak manusia lain yang pergi, tapi aku selalu tahu ada kamu yang tetap tinggal menemani. Hari-hari itu penuh menyenangkan, bahkan tidak ada satu hari pun yang aku sesali. Masuk di jam kerja kadang-kadang bibirku senyum-senyum sendiri sambil membaca pesan terbaru darimu. Ditambah Anything You Want dari Reality Club yang terputar sopan di telinga. Waktu rasanya bergulir lamban dibarengi dengan hormon serotonin yang mengalir kencang ke seluruh tubuh. Tentu, hal seperti ini tid...

Perayaan Tahun Kelima

10 Juni 2020. Iya, sudah lima tahun berlalu sejak kematianmu. Dan di tahun ini akan aku rayakan dengan menuliskan segala macam hal yang sudah berlalu lama, tapi pedihnya masih terasa nyata. Aku mulai dengan banyak maaf untukmu. Bapak, maaf, kolam ikan kesukaanmu di depan rumah sudah aku ratakan menahun yang lalu. Soalnya setiap pagi kalau aku lihat malah semakin menyayat hati. Aku juga sudah tidak sudi menguras kolamnya sendiri. Apalagi melihat ibu yang selalu sedih setiap kali memberi makan ikan-ikannya. Pekarangan kecil di sekitar rumah yang biasanya kamu isi dengan ragam tanaman juga sudah aku tindih semen hari ini. Agar tidak perlu lagi ada kesedihan yang tumbuh di rumah ini. Kemudian aku lanjutkan dengan membuka kembali ingatan yang semakin menggores hati. Aku masih ingat betul, di tahun kedua kematianmu. Aku berhenti memakai baju bekasmu dan mulai mengosongkan setumpuk bajumu dari dalam lemari. Tapi istrimu malah mengomel dan memarahiku. Katanya dengan napas yang berantakan, ...