Skip to main content

Posts

Showing posts from 2025

Fragmen Kosmik Di Sorot Matanya

Kira-kira empat bulan berlalu setelah aku bertemu dengan dia untuk yang pertama kalinya. Ada yang berbeda setelahnya. Entah, sulit aku jelaskan dengan lugas. Tapi tubuhku jelas ada yang berubah. Meski terasa samar, namun aku yakin kadar hormon serotonin dalam tubuhku mendominasi. Menekan hebat perasaan stres dan cemas sehingga hormon kortisol seakan tak punya ruang untuk mengusik. Aku masih ingat dengan jelas saat dia tepat berada di sampingku. Tiba-tiba mulutku menjadi gugup dan menjawab pertanyaan darinya dengan serampangan kemudian rasanya saat tidak sengaja mata kita saling menatap, waktu menjadi melambat ekstrem seperti berada terlalu dekat dengan Gargantua . Sepersekian detik momen yang tercipta di antara tatap kita seperti terjadi dilatasi waktu, detik melamban dan ritme detak jantungku menjadi pelan. Hari demi hari setelahnya aku lewati dengan suka cita, perasaan bahagia yang langka kini mulai melekat seiring ritme detak jantungku yang lebih stabil. Bagaimana kamu biasanya s...

Malfungsi Empati

Terbangun dari tidurnya semalam yang kurang nyenyak, dia mulai beranjak dari kasur sempit yang cuma muat untuk satu orang. Tidak langsung penuh sadar, dia masih mengucek mata sebelah kirinya sambil memulihkan kesadarannya. Terlihat sinar matahari mengintip dari sela-sela jendela yang langsung masuk menembus ke dalam kamarnya. Sudah terbiasa bangun tidurnya kini berantakan. Kalau saja memang benar pepatah “Rezeki dipatok ayam karena bangun kesiangan.”, mungkin ayam-ayam di sekitar rumahnya sudah jadi juragan ayam sebab bangun tidurnya selalu lewat pukul sebelas siang. Seperti bertransformasi ke arah yang muram, kini dia sudah benar-benar berubah dari yang aku kenal sebelumnya. Seorang yang setiap hari kutemui dengan senyum bahagia dan nada suara yang terdengar selalu ceria menjelma menjadi seorang yang skeptis dengan tatapan yang paling sinis. Tajam. Jika kamu belum mengenalnya sebelumnya, besar kemungkinan tidak ada keinginan untuk terlibat dengan hidupnya atau untuk sekadar bertegur s...

Malam Ini Bulannya Cantik, Ya?

Senin pagi, sebelum memulai hari sudah aku pastikan dulu pesan ucapan selamat pagi dariku terkirim centang dua menuju nomor Whatsappmu. Tidak berselang lama, ceklis centang dua berubah warna biru jadi tanda ucapannya sudah tersampaikan dan dibaca tuntas olehmu. “Pagi juga jagoan!” Balasmu cepat. Ucapan selamat pagi yang singkat dan terjadi berulang tapi tidak pernah bosan-bosannya aku baca selalu. Seakan jadi booster tambahan untuk menerabas segala macam mungkin yang belum pasti. Rasanya percaya selalu utuh meski banyak manusia lain yang pergi, tapi aku selalu tahu ada kamu yang tetap tinggal menemani. Hari-hari itu penuh menyenangkan, bahkan tidak ada satu hari pun yang aku sesali. Masuk di jam kerja kadang-kadang bibirku senyum-senyum sendiri sambil membaca pesan terbaru darimu. Ditambah Anything You Want dari Reality Club yang terputar sopan di telinga. Waktu rasanya bergulir lamban dibarengi dengan hormon serotonin yang mengalir kencang ke seluruh tubuh. Tentu, hal seperti ini tid...

Samsara Jelita

Pukul 10 pagi, perasaan tidak tenang, cemas yang terlalu berlebih untuk memulai hari. Dia masih ada di mana-mana. Melekat di dalam kepala, menjelma debu-debu di kolong meja kerja, sampai meyerupai bulir-bulir darah yang mengalir deras di arteri. Semakin lama, semakin dekat hingga rasanya seperti leher tercekik kuat. Napas terengah-engah, rupanya ini semakin menyiksa. Tapi… Sebentar. Ada notifikasi baru di handphoneku. Ternyata, dia datang lagi berupa pesan WhatsApp, “Kamu di mana? Balasnya kok lama, lagi sama siapa kamu? JAWAB TELPONKU SEKARANG!” Tanganku gemetar hebat. Ini bukan kejadian sekali, dua kali, ini bahkan repetitif yang sudah berulang berkali-kali. Meski begitu, jariku tetap gentar menerima panggilan darinya. Karena pasti yang aku dengar adalah segala macam sumpah serapah yang terucap dengan liar tanpa jeda dari mulutnya. Aku bergeming, membiarkan handphoneku bergetar hingga panggilan itu berakhir dengan sendirinya. Tidak berselang lama, muncul lagi serentetan panggilan den...

Aritmia

Kehilangan selalu tidak pernah menyenangkan. Artinya ada sesuatu yang kamu lepaskan, entah memang harus dilakukan ataupun terpaksa karena keadaan. Perasaan kosong karena ada hal yang akhirnya berbeda dari biasanya harus segera dibiasakan. Menerima jadi jalan untuk tetap bertahan. Kata orang kebanyakan, “Kamu harus kuat”, “Coba ikhlaskan saja”, “Memang jalannya seperti itu, diterima ya.” Yang semua intinya adalah membiasakan diri dengan kehilangan. Mereka tidak salah, tapi juga tidak mudah untuk diterima. Ditambah kehilangan seseorang maupun sosok yang sangat berdampak dalam hidup, pastinya tidak mudah, bukan? Aku mencoba menerima bertahun-tahun. Mencoba yang mereka sebut ikhlas, tapi di dalam dada yang ada rasanya sesak berantakan. Rasanya seperti dadamu ditusuk dengan bilah pedang yang tajam, sialnya tidak hanya satu, tapi puluhan bahkan ratusan bilah pedang menusuk tepat di dada kirimu lalu mengoyak liar jantungmu sampai detaknya tak karuan. Brutal. Lalu aku tetap teruskan ...

Perayaan Tahun Kelima

10 Juni 2020. Iya, sudah lima tahun berlalu sejak kematianmu. Dan di tahun ini akan aku rayakan dengan menuliskan segala macam hal yang sudah berlalu lama, tapi pedihnya masih terasa nyata. Aku mulai dengan banyak maaf untukmu. Bapak, maaf, kolam ikan kesukaanmu di depan rumah sudah aku ratakan menahun yang lalu. Soalnya setiap pagi kalau aku lihat malah semakin menyayat hati. Aku juga sudah tidak sudi menguras kolamnya sendiri. Apalagi melihat ibu yang selalu sedih setiap kali memberi makan ikan-ikannya. Pekarangan kecil di sekitar rumah yang biasanya kamu isi dengan ragam tanaman juga sudah aku tindih semen hari ini. Agar tidak perlu lagi ada kesedihan yang tumbuh di rumah ini. Kemudian aku lanjutkan dengan membuka kembali ingatan yang semakin menggores hati. Aku masih ingat betul, di tahun kedua kematianmu. Aku berhenti memakai baju bekasmu dan mulai mengosongkan setumpuk bajumu dari dalam lemari. Tapi istrimu malah mengomel dan memarahiku. Katanya dengan napas yang berantakan, ...

Dia Bertumbuh, Tapi Tak Kunjung Sembuh

Sore tadi pukul lima, aku bertemu dengan dia yang sudah lama tidak jumpa. Mungkin sekitar tiga tahun. Bukan, lima tahun lebih sejak pertemuan terakhir kita waktu itu. Aku lihat lagi dirinya penuh dengan perasaan yang berbeda kali ini. Tampak dari penampilan tidak banyak perubahan yang berbeda sejak pertemuan terakhir. Suara tawanya pun masih terdengar sama. Dia tetap orang yang sama yang aku kenal sejak sekian tahun. Aku menyapa dengan biasa, "Hei! Apa kabar? Bagaimana hidupmu sekarang?" Dia membalas dengan senyum kecil dan suara yang lembut, "Baik, sejauh ini terkendali kok. Kamu gimana?" "Aku? Hmm.. aku ya begini, masih bernapas dan menikmati hidup." Balasku sambil mikir-mikir tentang keadaanku saat ini. Kita melanjutkan berkeliling kota yang kata orang kota ini terkenal dengan suhunya yang cukup dingin saat musim para mahasiswa baru memulai awal perkulihannya. "Lanjut makan yuk! Makan apa enaknya?" "Ada nih, aku punya tempat makan rekomen...

Di Mana Letak Surga Jika Ibu Sudah Tak Ada?

Tiga tahun ibu sudah berpulang, tapi rasa pedihnya masih membekas sampai menusuk lapisan hati yang paling dalam. Aku coba untuk tetap jalani hari-hari seperti biasa, tapi tetap tak bisa biasa. Membiasakan hal-hal kecil yang pelan-pelan mulai menghilang bukan hal mudah. Apalagi ini tentang ibu yang selalu ada dari mulai aku merangkak sampai kini mampu berlari sendiri. Mustahil bukan? Tepat tiga tahun berlalu semenjak sarapan nasi goreng spesial buatan ibu yang aku makan di hari itu. Rasanya setiap nasi goreng yang aku makan setelahnya hingga kini selalu hambar. Sebab tak ada cinta ibu yang terlibat di dalamnya. Sesak. Tapi, lagi-lagi aku coba menguatkan diri sendiri. Di hari-hariku yang sepi, aku mulai termenung sambil memikirkan, “Ke siapa lagi bakti dan peduli harus aku limpahkan jika bukan pada ibu?” Kata orang-orang terdekat bilang, “Sekarang cari saja ayahmu dan mulai hidupmu yang baru bersamanya.” Hah! Yang benar saja, mana mungkin aku sudi hidup bersama orang yang bahkan tidak pe...

Melihatmu Pergi Di Februari

Tidak terasa sudah sebulan tepat berlalu kita menghabiskan banyak waktu bersama. Menemanimu di saat kamu sudah tidak mampu percaya lagi. Berjalan bersama dengan banyak ketidaksempurnaan. Dan denganmu, aku pun merasa mampu menjadi diriku sendiri. Aku pikir jika denganmu bisa berjalan dengan baik nantinya. Bersama pelan-pelan kita lalui satu bulan terakhir ini dengan saling mengenali dan mengerti satu sama lain. Kamu yang masih belum bisa percaya sebab segala macam yang telah kamu lalui di masa lalu. Pun juga aku, yang masih carut marut dengan diriku sendiri bisa kamu terima. Kamu tahu, aku merasa hidup bisa menghabiskan banyak waktu denganmu. Mendengar setiap cerita dan keluh kesahmu malah jadi tambahan napas untuk aku bisa melangkah lebih jauh lagi. Ucapan selamat pagi yang menjadi notifikasi nomor satu yang selalu aku tunggu setiap aku bangun dari tidurku jadi tambahan penyemangat memulai hari. Dampak hadirmu sangat besar buatku, pun aku ingin membuatmu merasakan berbagai macam hal-ha...

Separuh yang Luka

Dia tidak benar-benar hidup. Dibilang mati pun juga tidak. Tatapannya seringkali kosong. Melamun menjadi pekerjaan utamanya. Pikirannya entah melayang ke mana-mana. Kadang menyesali terlalu banyak kesalahan di masa lalunya. Kadang berkhayal berlebihan tentang masa depannya. Cemas, waswas, khawatir, perasaan tidak nyaman, takut kehilangan, merasa tidak pernah sepadan, semua itu seperti sudah menjadi hal-hal biasa yang dia hadapi. Dia rasakan sakitnya satu per satu. Dia mencoba bangkit pelan-pelan meski masih merangkak dengan susah payah. “Apa lagi yang masih tersisa? Apa lagi yang masih bisa aku jaga? Apa masih ada yang bisa aku percaya?” Pertanyaan demi pertanyaan yang tak kunjung ada jawabannya. Pasrah. Tak bisa apa-apa. Lalu perlahan semakin menambah satu demi satu pertanyaan yang semakin lama membuatnya semakin tidak berdaya. Kata orang, “Berdamai saja.” , “Sudah lupakan saja.” , “Aduh lemah banget gitu aja dipikirin. ” Ini bukan pekerjaan sehari dua hari yang bisa langsung diselesa...