Skip to main content

Posts

Di Mana Letak Surga Jika Ibu Sudah Tak Ada?

Tiga tahun ibu sudah berpulang, tapi rasa pedihnya masih membekas sampai menusuk lapisan hati yang paling dalam. Aku coba untuk tetap jalani hari-hari seperti biasa, tapi tetap tak bisa biasa. Membiasakan hal-hal kecil yang pelan-pelan mulai menghilang bukan hal mudah. Apalagi ini tentang ibu yang selalu ada dari mulai aku merangkak sampai kini mampu berlari sendiri. Mustahil bukan? Tepat tiga tahun berlalu semenjak sarapan nasi goreng spesial buatan ibu yang aku makan di hari itu. Rasanya setiap nasi goreng yang aku makan setelahnya hingga kini selalu hambar. Sebab tak ada cinta ibu yang terlibat di dalamnya. Sesak. Tapi, lagi-lagi aku coba menguatkan diri sendiri. Di hari-hariku yang sepi, aku mulai termenung sambil memikirkan, “Ke siapa lagi bakti dan peduli harus aku limpahkan jika bukan pada ibu?” Kata orang-orang terdekat bilang, “Sekarang cari saja ayahmu dan mulai hidupmu yang baru bersamanya.” Hah! Yang benar saja, mana mungkin aku sudi hidup bersama orang yang bahkan tidak pe...

Melihatmu Pergi Di Februari

Tidak terasa sudah sebulan tepat berlalu kita menghabiskan banyak waktu bersama. Menemanimu di saat kamu sudah tidak mampu percaya lagi. Berjalan bersama dengan banyak ketidaksempurnaan. Dan denganmu, aku pun merasa mampu menjadi diriku sendiri. Aku pikir jika denganmu bisa berjalan dengan baik nantinya. Bersama pelan-pelan kita lalui satu bulan terakhir ini dengan saling mengenali dan mengerti satu sama lain. Kamu yang masih belum bisa percaya sebab segala macam yang telah kamu lalui di masa lalu. Pun juga aku, yang masih carut marut dengan diriku sendiri bisa kamu terima. Kamu tahu, aku merasa hidup bisa menghabiskan banyak waktu denganmu. Mendengar setiap cerita dan keluh kesahmu malah jadi tambahan napas untuk aku bisa melangkah lebih jauh lagi. Ucapan selamat pagi yang menjadi notifikasi nomor satu yang selalu aku tunggu setiap aku bangun dari tidurku jadi tambahan penyemangat memulai hari. Dampak hadirmu sangat besar buatku, pun aku ingin membuatmu merasakan berbagai macam hal-ha...

Separuh yang Luka

Dia tidak benar-benar hidup. Dibilang mati pun juga tidak. Tatapannya seringkali kosong. Melamun menjadi pekerjaan utamanya. Pikirannya entah melayang ke mana-mana. Kadang menyesali terlalu banyak kesalahan di masa lalunya. Kadang berkhayal berlebihan tentang masa depannya. Cemas, waswas, khawatir, perasaan tidak nyaman, takut kehilangan, merasa tidak pernah sepadan, semua itu seperti sudah menjadi hal-hal biasa yang dia hadapi. Dia rasakan sakitnya satu per satu. Dia mencoba bangkit pelan-pelan meski masih merangkak dengan susah payah. “Apa lagi yang masih tersisa? Apa lagi yang masih bisa aku jaga? Apa masih ada yang bisa aku percaya?” Pertanyaan demi pertanyaan yang tak kunjung ada jawabannya. Pasrah. Tak bisa apa-apa. Lalu perlahan semakin menambah satu demi satu pertanyaan yang semakin lama membuatnya semakin tidak berdaya. Kata orang, “Berdamai saja.” , “Sudah lupakan saja.” , “Aduh lemah banget gitu aja dipikirin. ” Ini bukan pekerjaan sehari dua hari yang bisa langsung diselesa...

Sekeranjang Doa-doa Manis Untukmu yang Tersayang

Pukul empat sore dengan ditemani hujan yang turun cukup deras. Bulir-bulirnya membasahi tanah bergantian dengan ritme yang tidak menentu. Aku merasa cukup cemas, karena semakin lama, hujannya semakin deras. Padahal belum juga jas hujan yang baru aku jemur kemarin siang kering sepenuhnya. Belakangan ini hujan cukup sering datang, mulai dari gerimis kecil hingga petir menggelegar juga ikut datang menyambar. Kembali aku lihat kalender di ponselku, ternyata kini sudah Desember. “Ahh..pantas saja hujan sering turun, kan memang sudah masuk musim penghujan.” Keluhku sambil melamun di toko kopi sederhana sembari menunggu hujan reda. Lalu aku renungkan kembali, Desember artinya sudah berada di pengujung tahun. Setelah ini selesai, dan kembali lagi memulai tahun yang baru. Aku mengambil buku catatanku sambil menulis doa-doa yang kurapalkan untuk kamu yang tersayang, yang kadangkala juga terlupakan. Adalah untuk aku, diriku sendiri. Apresiasi tertinggi untuk kamu yang sudah melewati tahun ini m...

Tentang Rara dan Macam Hal Lainnya

Namanya Ekavira, karena cukup panjang untuk sebuah nama panggilan, jadi aku biasa memanggilnya dengan panggilan Rara. Perempuan paling berani yang pernah aku temui di kota kecil ini. Dia ceroboh, emosinya kadang meluap tak tentu. Namun Rara cukup tangguh menghadapi banyak hal yang mengahalangi Sebenarnya aku sudah mengenalnya cukup lama, tapi saat itu masih sangat terbatas untuk kita saling komunikasi. Kemudian belakangan ini, aku jadi cukup sering bertemu dengannya dan mengobrol karena ada kesamaan tujuan dalam hal pekerjaan. Di momen itu, aku mulai mengenalnya lebih dari sekadar namanya saja. Rara cukup frontal orangnya, meskipun terkadang masih sembunyi-sembunyi untuk terus terang dengan perasaannya. Dia cukup aktif berbicara. Rara terlihat bersemangat sekali ketika mulai menceritakan tentang dirinya. Rupanya dugaanku salah. Awalnya aku kira dia adalah orang yang pendiam. Meski suka sekali bercerita, ada momen dimana wajahnya pucat kelelahan seperti orang yang kehabisan tenaga. “K...

Lonjakan Ingatan

Aku tidak menemukanmu di musim berikutnya. Pergi ke mana kamu? Apa sudah menemukan tempat tinggal yang baru? Sore ini sambil duduk-duduk di teras kedai kopi langganan kita, aku teringat obrolan panjang terakhir kita di malam itu diselingi dengan suara tawamu yang menggemaskan lalu diakhiri oleh tangis dari kita berdua Pipi kita basah, air mata mengalir deras, degub jantung berdetak tak beraturan. Ada hubungan yang harus diakhiri meski mencoba melawan terus-menerus malah semakin menyakitkan bersama. Ini sudah lewat hampir 3 tahun saat cerita kita tak lagi bersambung. Banyak hal yang ingin aku ceritakan tentang hidupku saat ini kepadamu Tidurku sekarang sudah tak takut lagi dengan gelap, malahan aku sudah terbiasa tidur dengan kondisi kamar tanpa penerangan. Kadang-kadang pas makan soto sudah aku tambahkan sedikit kecap sebagai pelengkap, karena katamu rasa harus seimbang. Ada manis, gurih, asin, dan banyak rasa yang menjadikan sotonya jadi tambah enak Meskipun sampai sekarang ...

Sore Nanti, Dia Tidak Dirayakan Lagi

Sore hari yang teduh saat aku menghabiskan sebatang rokok sambil menunggu jadwal keretaku. Dari area khusus merokok, aku melihat sosok perempuan dari balik punggungnya yang terlihat antusias menantikan sesuatu. Dia sedang celingak-celinguk diantara kerumunan orang-orang yang sedang merayakan pertemuan, juga perpisahan. Terlihat dengan memakai setelan baju formal warna tosca, dilengkapi dengan pita rambut kecil warna pink menjepit sebagian rambut sampingnya yang terurai lembut sambil membawa tumbler warna ungu kesukaannya yang digenggam erat-erat. Di depan stasiun kota, aku lihat lagi genggamannya semakin erat seakan tumbler itu tidak boleh lepas darinya. Rupanya, dia sedang menunggu seseorang untuk melepas rindunya yang sudah lama dipendam. Seorang laki-laki yang ditunggu-tunggu itu muncul tepat di hadapannya. Laki-laki berkacamata dengan memakai kemeja warna merah marun dan celana panjang warna krem. Dia membawa tas punggung warna cokelat yang cukup besar, mungkin saja untuk memuat ba...