Skip to main content

Ledakan Kosmik Di Aliran Vena

Tiga atau empat tahun sudah berlalu. Banyak hal yang terjadi juga tentunya dalam rentang waktu tersebut. Tentang jalanku yang semakin gelap tidak punya tujuan dengan arah yang sembarangan. Hari-hari kebanyakan aku jalani dengan sekadar cukup bertahan hidup saja sudah merupakan pencapaian yang cemerlang.

Aku lupa kalau jantungku masih berdetak artinya masih punya kesempatan untuk melakukan hal-hal lain yang jauh lebih bermanfaat, aku lupa kalau napasku masih berhembus setiap hari artinya selalu ada kesempatan untuk perbaiki diri, aku lupa kalau masih bernyawa artinya Tuhan begitu baik memberikan waktu tambahan untuk bersyukur karena masih diberikan hidup.

Terlalu mahal harganya bahkan seluruh gaji bulananku juga tak mampu membayar segala berkah dariNya.

Aku tidak pura-pura buta, tidak juga pura-pura tidak merasa. Sampai hari ini pun, aku masih mampu melihat banyak hal nyata yang terlalu indah, batinku juga merasa, “Tidak mungkin tidak ada campur tangan magis dariNya sampai aku bisa selamat sampai sekarang.”

Begitu pula hadiah dariNya dipertemukan dengan sosok manusia anggun yang mampu menerima, bukan hanya hal baik saja tapi bagian yang tercela dari diriku juga.

Rasanya setiap hari selalu dirayakan dengan meriah.

Rasanya seperti ada ledakan kosmik di sela-sela aliran vena. Ledakan yang tidak desktruktif, tidak bising, tidak juga riuh menggelegar. Ledakan yang pelan dan lembut ―penuh kasih sayang. Seperti ada seseorang yang menawarkan sepasang tangan dan memeluk hangat lalu berbisik,


“Sudah ya, tidak perlu ditanggung semuanya sendiri lagi. Sekarang ada aku yang menemani kamu melawan dunia. Kamu sudah pulang.”


Aku sudah pulang, katanya. Seperti vena yang membawa pulang setiap sel darah menuju ke jantung. Kali ini aku sudah tahu ke mana arah jalanku pulang. Pulang ke tempat di mana aku merasa aman dan terjaga tanpa cemas.

Terima kasih sekian menahun akalku bekerja sungguh baik dengan cukup mampu teliti memilih dan memilah meski berdarah-darah. Empat tahun yang berantakan sudah harus aku bayar tuntas sekarang. Karena kali ini aku tidak sendiri, karena ada Dia dan dia yang terus menemani.

Walaupun masih banyak takutnya, tapi aku melihat jalannya kini sudah mulai terang. Harapan yang kian menyusut, sekarang mulai pelan-pelan menyulut. Kecil-kecil upaya baik yang semoga menjadi besar nantinya terwujud.

Semua dibarengi dengan rapalan doa-doa yang rutin mengudara untuknya dan dipelihara baik olehNya. Amin.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Di Mana Letak Surga Jika Ibu Sudah Tak Ada?

Tiga tahun ibu sudah berpulang, tapi rasa pedihnya masih membekas sampai menusuk lapisan hati yang paling dalam. Aku coba untuk tetap jalani hari-hari seperti biasa, tapi tetap tak bisa biasa. Membiasakan hal-hal kecil yang pelan-pelan mulai menghilang bukan hal mudah. Apalagi ini tentang ibu yang selalu ada dari mulai aku merangkak sampai kini mampu berlari sendiri. Mustahil bukan? Tepat tiga tahun berlalu semenjak sarapan nasi goreng spesial buatan ibu yang aku makan di hari itu. Rasanya setiap nasi goreng yang aku makan setelahnya hingga kini selalu hambar. Sebab tak ada cinta ibu yang terlibat di dalamnya. Sesak. Tapi, lagi-lagi aku coba menguatkan diri sendiri. Di hari-hariku yang sepi, aku mulai termenung sambil memikirkan, “Ke siapa lagi bakti dan peduli harus aku limpahkan jika bukan pada ibu?” Kata orang-orang terdekat bilang, “Sekarang cari saja ayahmu dan mulai hidupmu yang baru bersamanya.” Hah! Yang benar saja, mana mungkin aku sudi hidup bersama orang yang bahkan tidak pe...

Perayaan Tahun Kelima

10 Juni 2020. Iya, sudah lima tahun berlalu sejak kematianmu. Dan di tahun ini akan aku rayakan dengan menuliskan segala macam hal yang sudah berlalu lama, tapi pedihnya masih terasa nyata. Aku mulai dengan banyak maaf untukmu. Bapak, maaf, kolam ikan kesukaanmu di depan rumah sudah aku ratakan menahun yang lalu. Soalnya setiap pagi kalau aku lihat malah semakin menyayat hati. Aku juga sudah tidak sudi menguras kolamnya sendiri. Apalagi melihat ibu yang selalu sedih setiap kali memberi makan ikan-ikannya. Pekarangan kecil di sekitar rumah yang biasanya kamu isi dengan ragam tanaman juga sudah aku tindih semen hari ini. Agar tidak perlu lagi ada kesedihan yang tumbuh di rumah ini. Kemudian aku lanjutkan dengan membuka kembali ingatan yang semakin menggores hati. Aku masih ingat betul, di tahun kedua kematianmu. Aku berhenti memakai baju bekasmu dan mulai mengosongkan setumpuk bajumu dari dalam lemari. Tapi istrimu malah mengomel dan memarahiku. Katanya dengan napas yang berantakan, ...

Malam Ini Bulannya Cantik, Ya?

Senin pagi, sebelum memulai hari sudah aku pastikan dulu pesan ucapan selamat pagi dariku terkirim centang dua menuju nomor Whatsappmu. Tidak berselang lama, ceklis centang dua berubah warna biru jadi tanda ucapannya sudah tersampaikan dan dibaca tuntas olehmu. “Pagi juga jagoan!” Balasmu cepat. Ucapan selamat pagi yang singkat dan terjadi berulang tapi tidak pernah bosan-bosannya aku baca selalu. Seakan jadi booster tambahan untuk menerabas segala macam mungkin yang belum pasti. Rasanya percaya selalu utuh meski banyak manusia lain yang pergi, tapi aku selalu tahu ada kamu yang tetap tinggal menemani. Hari-hari itu penuh menyenangkan, bahkan tidak ada satu hari pun yang aku sesali. Masuk di jam kerja kadang-kadang bibirku senyum-senyum sendiri sambil membaca pesan terbaru darimu. Ditambah Anything You Want dari Reality Club yang terputar sopan di telinga. Waktu rasanya bergulir lamban dibarengi dengan hormon serotonin yang mengalir kencang ke seluruh tubuh. Tentu, hal seperti ini tid...