Skip to main content

Kembali ke Januari

Tidak terasa sudah setahun berlalu. Secara matematis setahun itu 365 hari dan itu kalo dibayangkan banyak sekali. Tapi beda rasanya kalo sudah dijalani seperti biasa, tiba-tiba begitu saja hari demi hari terlewati dengan cepatnya. Iya cepat, sampai-sampai tidak terasa kalo saat ini sudah saatnya untuk mengganti kalender yang lama dan memulai dari awal kembali. Memulai dengan berbagai macam resolusi yang sudah dipersiapkan dengan harapan akan terwujud di tahun ini. Ya semoga saja.

Ngomongin dikit soal tahun kemarin, aku menganggap tahun 2017 adalah tahun pembelajaran bagi aku. Banyak hal baru yang aku dapat di tahun itu, pengalaman baru juga. Tentu saja 2017 memberikan kesan yang baik untuk aku, semoga itu berlaku juga untuk kalian. Ya walaupun pastinya, gak semua hari yang aku lewati di tahun 2017 itu baik-baik saja, memang ada satu hari dimana aku bener-bener lelah. Aku sebutnya, “krisis motivasi”. Saat di mana aku merasa apa pun yang aku lakukan sama sekali gak guna. Bahkan untuk ngampus saat itu pun tingkat kemasalanku meningkat 10 kali lipat. Benar-benar saat itu aku ngerasa manusia paling gak berguna di bumi. Aku berpikir waktu itu, ada atau tidak adanya aku, bumi tetap akan berotasi dengan semestinya dan kehidupan juga akan berjalan baik-baik saja.  

Satu hari yang harusnya berjalan normal 24 jam, rasanya seperti berbulan-bulan lamanya. Lama dan terlalu lama, seakan hari besok cuma dongeng anak kecil belaka. Tapi untungnya, itu tidak berlarut terlalu lama. Aku sadar manusia memang makhluk yang lemah dan aku harus akui itu. Aku belajar kalau tidak semua hal bisa diatasi sendirian, disitulah gunanya orang-orang terdekat. Mungkin sekadar bercerita ke mereka apa yang membuatmu menjadi gelisah itu sudah cukup membantu.

Setahun berlalu aku nikmati dengan  senang, susah, apapun itu. Setahun sudah berlalu dan sekarang memulai dari awal kembali, Januari. Semoga semua resolusi yang udah kalian semua rancang serapi mungkin bisa terealisasikan dengan lancar. Dan pastinya selamat menjalani tahun 2018, selamat berpetualangan!


Comments

Popular posts from this blog

Fragmen Kosmik Di Sorot Matanya

Kira-kira empat bulan berlalu setelah aku bertemu dengan dia untuk yang pertama kalinya. Ada yang berbeda setelahnya. Entah, sulit aku jelaskan dengan lugas. Tapi tubuhku jelas ada yang berubah. Meski terasa samar, namun aku yakin kadar hormon serotonin dalam tubuhku mendominasi. Menekan hebat perasaan stres dan cemas sehingga hormon kortisol seakan tak punya ruang untuk mengusik. Aku masih ingat dengan jelas saat dia tepat berada di sampingku. Tiba-tiba mulutku menjadi gugup dan menjawab pertanyaan darinya dengan serampangan kemudian rasanya saat tidak sengaja mata kita saling menatap, waktu menjadi melambat ekstrem seperti berada terlalu dekat dengan Gargantua . Sepersekian detik momen yang tercipta di antara tatap kita seperti terjadi dilatasi waktu, detik melamban dan ritme detak jantungku menjadi pelan. Hari demi hari setelahnya aku lewati dengan suka cita, perasaan bahagia yang langka kini mulai melekat seiring ritme detak jantungku yang lebih stabil. Bagaimana kamu biasanya s...

Malam Ini Bulannya Cantik, Ya?

Senin pagi, sebelum memulai hari sudah aku pastikan dulu pesan ucapan selamat pagi dariku terkirim centang dua menuju nomor Whatsappmu. Tidak berselang lama, ceklis centang dua berubah warna biru jadi tanda ucapannya sudah tersampaikan dan dibaca tuntas olehmu. “Pagi juga jagoan!” Balasmu cepat. Ucapan selamat pagi yang singkat dan terjadi berulang tapi tidak pernah bosan-bosannya aku baca selalu. Seakan jadi booster tambahan untuk menerabas segala macam mungkin yang belum pasti. Rasanya percaya selalu utuh meski banyak manusia lain yang pergi, tapi aku selalu tahu ada kamu yang tetap tinggal menemani. Hari-hari itu penuh menyenangkan, bahkan tidak ada satu hari pun yang aku sesali. Masuk di jam kerja kadang-kadang bibirku senyum-senyum sendiri sambil membaca pesan terbaru darimu. Ditambah Anything You Want dari Reality Club yang terputar sopan di telinga. Waktu rasanya bergulir lamban dibarengi dengan hormon serotonin yang mengalir kencang ke seluruh tubuh. Tentu, hal seperti ini tid...

Perayaan Tahun Kelima

10 Juni 2020. Iya, sudah lima tahun berlalu sejak kematianmu. Dan di tahun ini akan aku rayakan dengan menuliskan segala macam hal yang sudah berlalu lama, tapi pedihnya masih terasa nyata. Aku mulai dengan banyak maaf untukmu. Bapak, maaf, kolam ikan kesukaanmu di depan rumah sudah aku ratakan menahun yang lalu. Soalnya setiap pagi kalau aku lihat malah semakin menyayat hati. Aku juga sudah tidak sudi menguras kolamnya sendiri. Apalagi melihat ibu yang selalu sedih setiap kali memberi makan ikan-ikannya. Pekarangan kecil di sekitar rumah yang biasanya kamu isi dengan ragam tanaman juga sudah aku tindih semen hari ini. Agar tidak perlu lagi ada kesedihan yang tumbuh di rumah ini. Kemudian aku lanjutkan dengan membuka kembali ingatan yang semakin menggores hati. Aku masih ingat betul, di tahun kedua kematianmu. Aku berhenti memakai baju bekasmu dan mulai mengosongkan setumpuk bajumu dari dalam lemari. Tapi istrimu malah mengomel dan memarahiku. Katanya dengan napas yang berantakan, ...