Skip to main content

Nyasar yang Tertunda

Test.. test.. test.. hmm.. udah lama bgt aku kagak mampir disini. Buat kalian pembaca setiaku yg udah kangen dengan tulisanku, nih aku mau share pengalamanku lagi.. hahah.. Oke langsung aja yaa.

Kira kira kejadiannya aku baru 2 minggu pindah disini. aku udah mulai bosan dengan semua kaset psku dan kakakku juga begitu. Yaudah, akhirnya kita berdua setuju untuk beli kaset baru aja. Karena masih buta jalan, aku dan kakakku mikir-mikir dulu untuk keluar rumah. Yaudah, dengan modal nekad dan sok tau akhirnya kita keluar rumah juga.

Kita menikmati perjalanan yg nekad tanpa beban. Setelah muter muter gak jelas akhirnya ketemu juga toko kaset ps nya. Kita langsung mampir deh. Udah puas beli kaset, tapi habis itu jadi bingung cara pulangnya. Hmm.. jadi kayak orang oon gitu, bolak balik gak jelas di depan toko kaset. Aku jadi kepikiran, dicoba aja pake google maps. Yaudah, akhirnya nyoba pake google maps.

Perjalanan nekad pun dimulai, awalnya sih perjalanannya mulus mulus aja. Tapi lama kelamaan semakin mencurigakan, kita udah mulai panik. Kita berdua hanya bisa pasrah dan berdoa saja. Dan akhirnya, tanpa disengaja ketemu sama omku di tengah perjalanan. Waaah, kita berdua seneng bgt! Dengan dipandu omku, akhirnya kita bisa pulang dengan selamat.. hahah.

Dan hokinya lagi, kita kagak jadi kesasar deh....
Pesanku buat kalian semua cuma satu, "jangan terlalu percaya dengan teknologi" cuma itu aja yaa..
Kalo dulu aku tetep ngikutin google, mungkin aku udah kesasar deh.. hahah..

Tunggu kisah aku yg lainnya.. :D

Comments

Popular posts from this blog

Fragmen Kosmik Di Sorot Matanya

Kira-kira empat bulan berlalu setelah aku bertemu dengan dia untuk yang pertama kalinya. Ada yang berbeda setelahnya. Entah, sulit aku jelaskan dengan lugas. Tapi tubuhku jelas ada yang berubah. Meski terasa samar, namun aku yakin kadar hormon serotonin dalam tubuhku mendominasi. Menekan hebat perasaan stres dan cemas sehingga hormon kortisol seakan tak punya ruang untuk mengusik. Aku masih ingat dengan jelas saat dia tepat berada di sampingku. Tiba-tiba mulutku menjadi gugup dan menjawab pertanyaan darinya dengan serampangan kemudian rasanya saat tidak sengaja mata kita saling menatap, waktu menjadi melambat ekstrem seperti berada terlalu dekat dengan Gargantua . Sepersekian detik momen yang tercipta di antara tatap kita seperti terjadi dilatasi waktu, detik melamban dan ritme detak jantungku menjadi pelan. Hari demi hari setelahnya aku lewati dengan suka cita, perasaan bahagia yang langka kini mulai melekat seiring ritme detak jantungku yang lebih stabil. Bagaimana kamu biasanya s...

Malam Ini Bulannya Cantik, Ya?

Senin pagi, sebelum memulai hari sudah aku pastikan dulu pesan ucapan selamat pagi dariku terkirim centang dua menuju nomor Whatsappmu. Tidak berselang lama, ceklis centang dua berubah warna biru jadi tanda ucapannya sudah tersampaikan dan dibaca tuntas olehmu. “Pagi juga jagoan!” Balasmu cepat. Ucapan selamat pagi yang singkat dan terjadi berulang tapi tidak pernah bosan-bosannya aku baca selalu. Seakan jadi booster tambahan untuk menerabas segala macam mungkin yang belum pasti. Rasanya percaya selalu utuh meski banyak manusia lain yang pergi, tapi aku selalu tahu ada kamu yang tetap tinggal menemani. Hari-hari itu penuh menyenangkan, bahkan tidak ada satu hari pun yang aku sesali. Masuk di jam kerja kadang-kadang bibirku senyum-senyum sendiri sambil membaca pesan terbaru darimu. Ditambah Anything You Want dari Reality Club yang terputar sopan di telinga. Waktu rasanya bergulir lamban dibarengi dengan hormon serotonin yang mengalir kencang ke seluruh tubuh. Tentu, hal seperti ini tid...

Perayaan Tahun Kelima

10 Juni 2020. Iya, sudah lima tahun berlalu sejak kematianmu. Dan di tahun ini akan aku rayakan dengan menuliskan segala macam hal yang sudah berlalu lama, tapi pedihnya masih terasa nyata. Aku mulai dengan banyak maaf untukmu. Bapak, maaf, kolam ikan kesukaanmu di depan rumah sudah aku ratakan menahun yang lalu. Soalnya setiap pagi kalau aku lihat malah semakin menyayat hati. Aku juga sudah tidak sudi menguras kolamnya sendiri. Apalagi melihat ibu yang selalu sedih setiap kali memberi makan ikan-ikannya. Pekarangan kecil di sekitar rumah yang biasanya kamu isi dengan ragam tanaman juga sudah aku tindih semen hari ini. Agar tidak perlu lagi ada kesedihan yang tumbuh di rumah ini. Kemudian aku lanjutkan dengan membuka kembali ingatan yang semakin menggores hati. Aku masih ingat betul, di tahun kedua kematianmu. Aku berhenti memakai baju bekasmu dan mulai mengosongkan setumpuk bajumu dari dalam lemari. Tapi istrimu malah mengomel dan memarahiku. Katanya dengan napas yang berantakan, ...