Skip to main content

Pengalaman Unik

Ohhh.. udah gak terasa aku dah setahun tinggal di tempat ini. Banyak juga yg udah terjadi di sini, dari mulai yg hancur sampe yg berantakan.. wkwk. Aku punya pengalaman unik yg terjadi disini yaitu pertama kali aku nonton di BIOSKOP. Bioskop??

ya bener bioskop, tempat yg dari dulu aku selalu impikan dan akhirnya sekarang bisa terwujud juga.. haha. Memang agak aneh sih, kenapa aku bilang bioskop?? Iya karena di Jayapura tidak ada bioskop-__- Udah, kita ke balik topik utama lagi. Aku masih ingat film pertama yg aku tonton itu The Raid.

Film aseli INDONESIA yg aku bilang nih film paling keren sejagad.. haha. Apalgi si jago silat Iko Uwais, gara-gara liat dia berkelahi aku jadi berminat jadi pesilat.. haha. Tapi aku batalkan niat itu dan lebih memilih jadi pesulap *eh. Oke, waktu aku nonton film di bioskop pertama kali sama om dan kakak sepupuku. Yg pertama ada dipikiranku waktu itu adalah "sebesar apa nanti ya layarnya??" cuma itu aja yg ada dipikiranku. Sebelum masuk bioskop, aku beli cemilan dulu buat sebagai teman di dalam bioskop nanti.

Waktunya pun udah tiba, aku, om, dan kakak sepupuku pun masuk bioskop. Di dalam aku takjub banget bisa menikmati bioskop secara langsung. Oke, aku mulai menikmati tu film sambil makan cemilan yg tadi aku baru beli. Awalnya sih aku antusias banget tapi lama-lama kok jadi ngantuk. Dan akhinrnya aku ketiduran sampe filmnya habis.

Yaudah aku pulang dengan kecewa berat. Tapi yg penting aku udah merasakan ademnya di dalam bioskop dan udah tau besar nya layar bioskop.. haha.

Comments

Popular posts from this blog

Fragmen Kosmik Di Sorot Matanya

Kira-kira empat bulan berlalu setelah aku bertemu dengan dia untuk yang pertama kalinya. Ada yang berbeda setelahnya. Entah, sulit aku jelaskan dengan lugas. Tapi tubuhku jelas ada yang berubah. Meski terasa samar, namun aku yakin kadar hormon serotonin dalam tubuhku mendominasi. Menekan hebat perasaan stres dan cemas sehingga hormon kortisol seakan tak punya ruang untuk mengusik. Aku masih ingat dengan jelas saat dia tepat berada di sampingku. Tiba-tiba mulutku menjadi gugup dan menjawab pertanyaan darinya dengan serampangan kemudian rasanya saat tidak sengaja mata kita saling menatap, waktu menjadi melambat ekstrem seperti berada terlalu dekat dengan Gargantua . Sepersekian detik momen yang tercipta di antara tatap kita seperti terjadi dilatasi waktu, detik melamban dan ritme detak jantungku menjadi pelan. Hari demi hari setelahnya aku lewati dengan suka cita, perasaan bahagia yang langka kini mulai melekat seiring ritme detak jantungku yang lebih stabil. Bagaimana kamu biasanya s...

Malam Ini Bulannya Cantik, Ya?

Senin pagi, sebelum memulai hari sudah aku pastikan dulu pesan ucapan selamat pagi dariku terkirim centang dua menuju nomor Whatsappmu. Tidak berselang lama, ceklis centang dua berubah warna biru jadi tanda ucapannya sudah tersampaikan dan dibaca tuntas olehmu. “Pagi juga jagoan!” Balasmu cepat. Ucapan selamat pagi yang singkat dan terjadi berulang tapi tidak pernah bosan-bosannya aku baca selalu. Seakan jadi booster tambahan untuk menerabas segala macam mungkin yang belum pasti. Rasanya percaya selalu utuh meski banyak manusia lain yang pergi, tapi aku selalu tahu ada kamu yang tetap tinggal menemani. Hari-hari itu penuh menyenangkan, bahkan tidak ada satu hari pun yang aku sesali. Masuk di jam kerja kadang-kadang bibirku senyum-senyum sendiri sambil membaca pesan terbaru darimu. Ditambah Anything You Want dari Reality Club yang terputar sopan di telinga. Waktu rasanya bergulir lamban dibarengi dengan hormon serotonin yang mengalir kencang ke seluruh tubuh. Tentu, hal seperti ini tid...

Perayaan Tahun Kelima

10 Juni 2020. Iya, sudah lima tahun berlalu sejak kematianmu. Dan di tahun ini akan aku rayakan dengan menuliskan segala macam hal yang sudah berlalu lama, tapi pedihnya masih terasa nyata. Aku mulai dengan banyak maaf untukmu. Bapak, maaf, kolam ikan kesukaanmu di depan rumah sudah aku ratakan menahun yang lalu. Soalnya setiap pagi kalau aku lihat malah semakin menyayat hati. Aku juga sudah tidak sudi menguras kolamnya sendiri. Apalagi melihat ibu yang selalu sedih setiap kali memberi makan ikan-ikannya. Pekarangan kecil di sekitar rumah yang biasanya kamu isi dengan ragam tanaman juga sudah aku tindih semen hari ini. Agar tidak perlu lagi ada kesedihan yang tumbuh di rumah ini. Kemudian aku lanjutkan dengan membuka kembali ingatan yang semakin menggores hati. Aku masih ingat betul, di tahun kedua kematianmu. Aku berhenti memakai baju bekasmu dan mulai mengosongkan setumpuk bajumu dari dalam lemari. Tapi istrimu malah mengomel dan memarahiku. Katanya dengan napas yang berantakan, ...